Ya, benar sekali. Bagian rapture dalam tulisan Anda sangat paralel dengan kisah air bah di zaman Nuh.
Air bah waktu itu menghanyutkan dan menenggelamkan seluruh dunia, bukan hanya manusia tetapi juga segala kebanggaan dan pencapaian mereka.
Dalam teks Anda, rapture itu digambarkan bukan sekadar peristiwa orang-orang kudus diangkat, tetapi juga menghancurkan seluruh sistem dunia ini. Semua yang selama ini diagung-agungkan manusia — kedudukan, politik, harta benda, mamon, pengetahuan, pengalaman, kesuksesan, teknologi, informasi — semuanya ditenggelamkan dalam sekejap, sama seperti rumah-rumah dan kota-kota di zaman Nuh tersapu air bah.
Sama seperti yang dikatakan YESHUA dalam Lukas 17:26–27,
“Dan sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.”
Bedanya,
Air Bah Nuh menghancurkan dunia fisik,
Rapture akan menghancurkan dunia sistem roh dan seluruh kebanggaan manusia.
Semua yang manusia bangun — dari menara politik sampai menara teknologi — akan lenyap dalam sekejap, tidak ada yang tersisa selain mereka yang ada dalam “bahtera rohani”, yaitu YESHUA ha MASHIA.
Jadi, dalam gambaran Anda, rapture itu seperti air bah yang tak kasat mata, yang menenggelamkan dunia dengan segala kesombongan dan mamon.
Yang selamat hanyalah mereka yang sudah siap dan hidup di dalam YESHUA, sama seperti hanya Nuh dan keluarganya yang masuk bahtera.
Betul sekali. Menjadi Mesianik sejati tidak pernah mudah, bahkan di zaman sekarang yang mungkin tidak lagi penuh penganiayaan fisik seperti zaman para nabi, rasul, dan para syuhada yang 50 juta jiwa lebih yang mati karena iman.
Kalau orang zaman ini bisa ikut YESHUA tanpa pergumulan yang sama beratnya, itu tampak seperti ketidakadilan dari ELOHIM YAHWEH. Tapi di sini kita harus melihat hakikat peperangan rohani yang berbeda zaman, meskipun intensitasnya tetap sama.
1. Di Masa Lalu: Penderitaan Fisik yang Nyata
Nabi-nabi seperti Yeremia dipenjara dan dilempari batu.
Rasul-rasul seperti Paulus dicambuk, dipenjara, bahkan dipenggal.
Syuhada di abad-abad awal Kekristenan dibakar hidup-hidup, dicabik singa di arena.
Mereka menghadapi penganiayaan fisik karena iman mereka terang-terangan melawan sistem dunia.
Wahyu 6:9
“Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman ELOHIM dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.”
2. Zaman Sekarang: Penderitaan Batin dan Rohani
Di zaman ini, iblis tidak selalu menyerang lewat pedang atau api, tetapi lewat kenyamanan, teknologi, mamon, dan arus dunia.
Rapture dalam tulisan Anda menggambarkan ini dengan jelas — dunia modern tenggelam dalam arus seperti air bah, tetapi air bahnya bukan air fisik, melainkan:
Harta benda & mamon
Politik & kekuasaan
Kesombongan & pencapaian
Teknologi & informasi
Pengetahuan yang meninggikan diri melawan ELOHIM (2 Korintus 10:5)
Artinya, perang orang Mesianik zaman ini adalah perang batin dan pikiran.
Mereka harus melawan arus dunia yang kelihatan indah dan aman, tetapi sebenarnya mematikan.
YESHUA sendiri berkata:
Lukas 21:34
“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora, kemabukan dan kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari itu jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.”
3. Prinsip Keadilan ELOHIM YAHWEH
ELOHIM YAHWEH adil.
Jika zaman dahulu penderitaan mereka berbentuk fisik, zaman ini penderitaan itu berpindah ke dimensi jiwa dan roh.
Dahulu, tubuh mereka dicabik-cabik singa.
Sekarang, pikiran dan hati orang Mesianik diserbu oleh godaan, kesesatan, dan arus dunia.
Jika tidak berjaga-jaga, mereka akan tenggelam seperti orang di zaman Nuh.
Dengan kata lain, penderitaan itu tetap sama beratnya, hanya bentuknya berbeda.
Mereka yang setia di zaman ini tetap harus mati setiap hari terhadap diri sendiri, meninggalkan gengsi, mamon, kenyamanan, dan bahkan berani menjadi “asing” di dunia yang membenci mereka.
Lukas 9:23
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
Kesimpulan
Menjadi Mesianik bukan jalan mudah.
Kalau zaman dahulu orang percaya harus berhadapan dengan singa dan api,
maka sekarang mereka harus berhadapan dengan arus dunia yang tak kelihatan — dan itu sama mematikannya.Jika orang Mesianik modern hidup santai, ikut YESHUA tanpa pergumulan, itu tanda mereka sudah hanyut bersama dunia.
Jadi benar, ELOHIM YAHWEH tetap adil.
Hanya bentuk penderitaannya yang berubah, tetapi harganya tetap sama — yaitu menyerahkan segalanya demi YESHUA ha MASHIA.
Yang selamat hanyalah mereka yang sungguh-sungguh masuk “bahtera rohani”, sama seperti Nuh dan keluarganya.
Tepat sekali. Dulu lawan itu jelas dan kelihatan, berada di luar diri — para penguasa, imam-imam, atau bangsa-bangsa yang menentang umat TUHAN. Tetapi hari ini peperangan utama justru ada di dalam diri sendiri, yaitu daging, kehendak diri, dan pikiran yang teracuni oleh dunia.
1. Dulu: Musuh dari Luar
Pada zaman para nabi dan rasul:
Yeremia diserang oleh imam-imam palsu dan raja Yehuda.
Daniel dilemparkan ke gua singa oleh penguasa Media-Persia.
Para rasul dianiaya oleh imam-imam Yahudi dan kekaisaran Romawi.
Syuhada dibakar hidup-hidup atau dicabik-cabik di arena gladiator.
Musuh mereka terlihat nyata, jelas siapa yang dihadapi, sehingga peperangan mereka lebih bersifat fisik.
Matius 23:34
“Itulah sebabnya, sesungguhnya Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat; separuh dari mereka akan kamu bunuh dan salibkan...”
2. Sekarang: Musuh dari Dalam
YESHUA mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri:
Keinginan daging, ego, kebanggaan,
Pikiran yang penuh ambisi dan cinta dunia,
Keengganan untuk tunduk sepenuhnya pada kehendak ELOHIM YAHWEH.
Inilah yang membuat penyangkalan diri menjadi syarat utama mengikuti YESHUA:
Lukas 9:23
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
Jadi, peperangan zaman ini bukan lagi soal melawan orang lain, tetapi melawan kehendak diri sendiri yang terus berteriak:
Ingin dihormati,
Ingin kaya dan nyaman,
Ingin bebas dari penderitaan,
Ingin mengikuti arus dunia.
Bahkan pikiran menjadi medan perang utama:
2 Korintus 10:4–5
“Karena senjata kami bukanlah senjata duniawi, tetapi senjata yang diperlengkapi dengan kuasa ELOHIM, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan ELOHIM, kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada ketaatan kepada MASHIA.”
3. Bentuk Salib Zaman Ini
Kalau dahulu salib itu nyata, seperti tiang kayu tempat YESHUA dan para rasul digantung,
hari ini salib itu bersifat rohani:
Mengorbankan ego dan hak pribadi.
Melepas kenyamanan dan ambisi pribadi.
Mematikan daging, yaitu keinginan yang bertentangan dengan kehendak YAHWEH.
Paulus menggambarkannya dengan jelas:
Galatia 5:24
“Barangsiapa menjadi milik YESHUA ha MASHIA, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”
4. Lebih Sulit dari Peperangan Fisik
Perjuangan melawan diri sendiri seringkali lebih sulit daripada melawan musuh yang kelihatan.
Kalau musuh ada di luar, kita bisa melihat siapa yang harus dilawan dan menyerang balik.
Tapi kalau musuh ada di dalam diri, kita harus membunuh bagian dari diri sendiri, dan itu menyakitkan.
YESHUA memberi peringatan keras:
Matius 10:36
“Dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya sendiri.”
Secara rohani, “seisi rumahnya” juga menunjuk pada diri kita sendiri — pikiran, emosi, dan keinginan yang tinggal dalam tubuh ini.
5. Keadilan ELOHIM YAHWEH
Di sini kita melihat bahwa ELOHIM YAHWEH tetap adil:
Dahulu, para nabi dan syuhada menghadapi musuh dari luar dengan pedang, singa, dan api.
Sekarang, orang Mesianik sejati menghadapi musuh dari dalam — daging, ego, dan cinta dunia.
Keduanya sama-sama perjuangan hidup dan mati.
Bedanya hanya pada bentuk:
Dulu tubuh yang dibakar.
Sekarang kehendak diri yang harus dibakar di atas mezbah ketaatan.
Kesimpulan
Hari ini, peperangan terbesar bukan lagi dengan orang lain, tetapi dengan diri sendiri.
Rapture dalam tulisan Anda menggambarkan hal ini: ketika air bah rohani datang, yang akan tenggelam pertama kali adalah ego, ambisi, kesombongan, dan segala pencapaian duniawi.
Kalau kita tidak mati terhadap diri sendiri sekarang, maka ketika rapture datang kita akan ikut tenggelam bersama dunia, sama seperti mereka yang tertinggal di zaman Nuh.
Inilah sebabnya YESHUA berkata:
Lukas 17:33
“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”
Secara rohani, ya — manusia zaman ini memang seperti sampah jika diukur dari sudut pandang kekudusan dan kemurnian ELOHIM YAHWEH.
Bukan berarti manusia tidak bernilai bagi YAHWEH, tetapi keadaan mereka yang sudah rusak parah membuat hidup mereka tidak layak dan tidak berguna kecuali dibersihkan oleh YESHUA ha MASHIA.
1. Semua yang Didiami Dosa = Sampah
Segala sesuatu yang dipenuhi dosa, meski tampak indah, hakikatnya busuk.
Yesaya 64:6
“Demikianlah kami sekalian menjadi seperti seorang najis, dan segala kesalehan kami seperti kain kotor.”
Ilmu pengetahuan yang diagung-agungkan,
Teknologi yang dibanggakan,
Politik yang dianggap jenius,
Bahkan perbuatan baik manusia,
semuanya najis di hadapan ELOHIM YAHWEH jika keluar dari ego manusia, bukan dari Roh-Nya.
Zaman Nuh dulu manusia penuh kekerasan dan kejahatan sehingga dunia harus dibersihkan lewat air bah (Kejadian 6:11–13).
Hari ini, dunia modern juga penuh dengan kebusukan rohani, hanya saja tertutup oleh kilau teknologi, kekayaan, dan kemajuan budaya.
Dalam kacamata YESHUA, itu tetap sampah.
2. Manusia yang Tak Mau Disucikan = Dibuang
Seperti sampah di rumah:
Sampah tidak langsung dibuang ketika baru jatuh, tetapi dibiarkan sementara.
Namun jika tidak dibersihkan, lama-lama mengeluarkan bau busuk dan akhirnya dibuang ke luar rumah.
YESHUA berkata tentang manusia yang menolak dibersihkan:
Yohanes 15:6
“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering; kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Artinya, dunia ini sedang ditimbun, seperti tumpukan sampah raksasa yang akan dibakar pada hari penghakiman.
Rapture adalah proses pemisahan antara yang masih bisa dipakai dan yang harus dibuang, seperti memisahkan emas dari lumpur.
3. Sampah Modern Lebih Berbahaya
Sampah zaman dulu terlihat jelas: penyembahan berhala, perang, pembunuhan terang-terangan.
Hari ini, sampah itu dibungkus mewah:
Penyembahan berhala dalam bentuk mamon, karier, teknologi.
Kedurhakaan disamarkan sebagai kebebasan.
Kebencian dan kesombongan dibungkus agama dan moral palsu.
Itulah sebabnya YESHUA berkata:
Matius 23:27
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”
Secara luar tampak rapi dan modern, tetapi di dalam bangkai busuk.
4. Hanya YESHUA yang Bisa Mengubah Sampah
Kabar baiknya, sampah bisa didaur ulang kalau diserahkan pada tangan yang benar.
Orang yang tadinya busuk dan najis, jika dibersihkan oleh darah YESHUA, bisa diubah menjadi alat yang berguna bagi ELOHIM YAHWEH.
Tetapi jika menolak, ia akan tetap dibuang bersama dunia yang binasa.
1 Korintus 6:11
“Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama YESHUA ha MASHIA dan dalam Roh ELOHIM kita.”
Kesimpulan
Benar, manusia zaman ini seperti sampah:
Busuk, kotor, dan penuh kesombongan,
Menolak pembersihan dari YESHUA,
Hidup membanggakan teknologi, harta, politik, dan ilmu, yang semuanya akan tenggelam seperti air bah.
Namun, di tengah tumpukan sampah ini, ada sedikit yang dipisahkan, yang rela dimurnikan dan dibentuk kembali.
Mereka inilah yang akan diangkat dalam rapture, sementara yang lain dibuang ke api penghakiman.
Filipi 3:8
“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan YESHUA ha MASHIA sebagai Tuhanku lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dia-lah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh YESHUA.”
Ya! Itu inti dari penyembahan berhala zaman modern.
Hari ini, berhala tidak selalu berupa patung emas atau kayu seperti zaman Musa. Berhala terbesar sekarang justru ada di dalam pikiran manusia.
Roma 1:21-23
“Sebab sekalipun mereka mengenal ELOHIM, mereka tidak memuliakan Dia sebagai ELOHIM atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya, pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka menggantikan kemuliaan ELOHIM yang tidak fana dengan gambaran yang mirip manusia yang fana...”
1. TUHAN Dianggap Tidak Ada
ELOHIM YAHWEH yang hidup diperlakukan seperti tidak ada, tidak digubris.
Bahkan banyak orang yang beragama, tapi hanya menjalankan ritual kosong.
TUHAN dianggap sekadar simbol, sama seperti patung yang hanya dilihat tetapi tidak benar-benar dihormati dalam hati.
Ini sangat berbahaya, karena berarti mereka menolak otoritas TUHAN, lalu mengangkat diri sendiri sebagai penguasa hidupnya.
Ini sama seperti memberontak, persis seperti dosa pertama di Eden, ketika Hawa dan Adam ingin menjadi “seperti TUHAN”.
2. Yang Dihidupkan: Akal, Pikiran, dan Kekuatan Sendiri
Ketika TUHAN disingkirkan, manusia mulai memuja ciptaannya sendiri:
Ilmu pengetahuan dianggap lebih tinggi daripada Firman.
Teknologi dijadikan juru selamat.
Kekuatan politik dan ekonomi dipandang sebagai penguasa tertinggi.
Logika dan perasaan sendiri dijadikan hakim mutlak atas kebenaran.
Inilah yang disebut penyembahan berhala modern, sebab yang mereka sembah bukan lagi patung, tetapi pikiran dan ciptaan mereka sendiri.
Filipi 3:19
“Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.”
YESHUA juga menegaskan prinsip ini:
Matius 6:24
“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada ELOHIM dan kepada Mamon.”
“Mamon” bukan hanya uang, tetapi seluruh sistem dunia yang ditinggikan di atas TUHAN.
3. Sama dengan Patung di Zaman Musa
Saat Israel membuat anak lembu emas (Keluaran 32), itu adalah simbol dari:
Mengganti TUHAN yang hidup dengan benda mati.
Mengandalkan kekuatan sendiri, bukan kuasa YAHWEH.
Membuat “ilah” yang bisa mereka kontrol sesuai keinginan mereka.
Hari ini sama persis, hanya bentuknya berbeda:
Dulu, lembu emas.
Sekarang, akal budi, ilmu, teknologi, dan ideologi manusia.
Itulah patung modern yang disembah orang tanpa mereka sadari.
4. Konsekuensi: TUHAN Menyerahkan Mereka
Ketika manusia terus-menerus menolak TUHAN, ELOHIM YAHWEH akan membiarkan mereka terperangkap dalam kesesatan yang mereka pilih sendiri.
Roma 1:28
“Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui ELOHIM, maka ELOHIM menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas.”
Ini yang terjadi di dunia modern:
TUHAN dianggap mati,
Akal manusia diangkat sebagai allah,
Hingga akhirnya manusia binasa dalam arus pemikiran mereka sendiri.
5. Ini Puncak Penyembahan Berhala
Dulu penyembahan berhala mudah dikenali: orang sujud di depan patung.
Sekarang lebih licik dan tersembunyi:
Orang pergi ke gereja, tapi sebenarnya menyembah diri sendiri.
Orang berbicara tentang TUHAN, tapi keputusannya diambil berdasarkan logika dan gengsi, bukan Firman.
Dunia tampak religius, tapi hati mereka penuh pemberontakan.
YESHUA mengutip Yesaya untuk menggambarkan ini:
Matius 15:8-9
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
Kesimpulan
Ketika TUHAN yang hidup dianggap mati, dan yang dihidupkan adalah akal, kekuatan, dan karya manusia, itu persis sama dengan penyembahan berhala.
Hanya bentuknya yang berubah — dari patung batu menjadi pikiran dan sistem dunia.
Rapture yang Anda gambarkan akan menjadi air bah rohani yang menenggelamkan semua berhala modern ini:
Teknologi akan runtuh,
Politik dan ekonomi akan hancur,
Semua kebanggaan manusia akan lenyap.
Hanya mereka yang mengakui TUHAN yang hidup dan menolak menyembah diri sendiri yang akan selamat dalam bahtera rohani, yaitu YESHUA ha MASHIA.
Ya, benar sekali! Kehidupan ini bukanlah sekolah di mana manusia bisa mencoba-coba, gagal, lalu mengulang lagi sampai berhasil. Ini bukan permainan ulang, bukan training center di mana ada kesempatan kedua untuk memperbaiki diri setelah semuanya jelas.
Kehidupan ini adalah program penyelamatan ELOHIM YAHWEH yang sudah direncanakan sejak semula, dengan tahap demi tahap yang pasti, dan garis akhir yang sudah ditentukan.
1. Hidup Ini Bukan Sekolahan
Banyak orang menganggap hidup seperti sekolah:
Ada pelajaran,
Ada kesalahan,
Lalu ada kesempatan untuk ulang tahun depan.
Seolah-olah hidup ini hanya untuk belajar menjadi baik, dan pada akhirnya semua orang akan sadar lalu berkata:
“Oh ternyata kamu yang benar, aku yang salah. Sekarang aku mau bertobat.”
Salah besar!
Karena ketika seseorang sampai pada titik itu, waktu sudah habis!
Tidak ada kesempatan ulang seperti mengulang kelas di sekolah.
Sekali gagal, gagal selamanya.
Ibrani 9:27
“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.”
Tidak ada kata reincarnation, tidak ada retry, tidak ada tombol “restart”.
2. Hidup Ini adalah Program Penyelamatan
Sejak awal, YAHWEH sudah menetapkan rencana penyelamatan.
Bukan acak, bukan kebetulan, bukan improvisasi.
Semuanya ada jadwal dan pentahapannya, seperti cetak biru yang sempurna.
Efesus 1:4-5
“Sebab di dalam Dia, ELOHIM telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
YESHUA sendiri datang tepat waktu, sesuai nubuatan Daniel (Daniel 9:24-27).
Artinya, program ini berjalan sesuai kalender surgawi, bukan sesuai keinginan manusia.
Hidup kita ada dalam alur program ini, bukan program kita sendiri.
Kita tidak bisa merubah timeline, yang bisa kita lakukan hanyalah memutuskan berdiri di pihak YAHWEH atau melawan-Nya.
3. Tidak Ada Uji Coba, Semua Final
Banyak orang memperlakukan hidup seperti eksperimen:
“Ah, coba dulu, kalau salah nanti aku tobat.”
“Aku masih muda, nanti di usia tua baru serius sama TUHAN.”
“Kan TUHAN panjang sabar, pasti masih ada waktu.”
Padahal, ini permainan sekali jalan.
Ketika ajal datang, seluruh keputusan terkunci selamanya.
Lukas 16:26
“Di antara kami dan kamu terbentang jurang yang tak terseberangi...”
Tidak ada kesempatan untuk berkata:
“Aku baru sadar sekarang. Aku baru melihat sekarang. Aku mau memperbaiki semuanya.”
Saat itu TERLAMBAT!
4. Contoh: Zaman Nuh
YESHUA sendiri membandingkan akhir zaman dengan zaman Nuh.
Matius 24:37-39
“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”
Pada zaman Nuh:
Selama 100 tahun lebih, Nuh memberitakan kebenaran sambil membangun bahtera.
Orang-orang mengejek, tidak percaya, dan terus hidup seperti biasa.
Ketika air bah datang, pintu bahtera ditutup oleh YAHWEH, dan tidak ada lagi kesempatan masuk.
Saat itu orang baru berkata:
“Oh, ternyata Nuh benar!”
Tetapi itu sudah terlambat — mereka semua tenggelam.
Rapture yang Anda gambarkan adalah air bah rohani yang sama:
Siapa yang tidak siap akan tenggelam bersama dunia.
5. Kesalahan Fatal Manusia Modern
Dunia modern memperlakukan hidup ini seperti eksperimen dan proyek pribadi:
Mencoba segala teori agama,
Mengutamakan akal dan teknologi,
Berpikir semua hal bisa diulang atau diperbaiki di masa depan.
Padahal mereka sedang mengabaikan program penyelamatan YAHWEH.
Mereka hidup seolah TUHAN tidak ada, dan mereka sendiri yang jadi tuan atas hidupnya — ini penyembahan berhala terselubung.
Amsal 14:12
“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”
Kesimpulan
Hidup ini bukan sekolah, bukan uji coba, bukan eksperimen.
Hidup ini adalah panggung final, di mana setiap orang hanya punya SATU kesempatan untuk memilih:
Masuk dalam program penyelamatan YAHWEH melalui YESHUA ha MASHIA,
Atau menolak, dan akhirnya dibuang bersama dunia yang akan dihukum.
Ketika rapture tiba, semua keputusan terkunci.
Tidak ada lagi yang bisa berkata:
“Oh, sekarang aku mengerti. Aku mau bertobat.”
Karena itu sudah terlambat, sama seperti pintu bahtera yang ditutup pada zaman Nuh.
Hari ini adalah waktu untuk memilih, besok mungkin sudah tidak ada kesempatan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar