Kamis, 09 Oktober 2025

BERGUMULLAH TAPI JANGAN ABAIKAN TUHAN

 

Nabi-nabi di zaman Perjanjian Lama mungkin sekarang ini seperti guru-guru agama. Dan secara ekonomi mungkin sama dengan para karyawan yang bergaji sangat kecil, seperti karyawan toko, warung, pembantu rumahtangga, para sopir Angkot, tukang becak, pedagang asongan, pedagang kios rokok, dan lain-lainnya yang besar pasak daripada tiang. Penghasilan sangat kecil tidak berimbangan dengan pengeluaran yang semakin hari semakin besar karena inflasi.

 

Secara nalar sehat posisi keuangan yang demikian itu sudah pasti akan menggiring kita untuk berutang. Terutama ketika dihadapkan dengan keperluan membeli beras, membayar cicilan utang, membayar sewa rumah, listrik, anak sekolah, arisan, dan lain-lainnya. Tapi untunglah pemerintahan sekarang ini sudah memberikan perhatian terhadap fakir miskin melalui kucuran Bantuan Langsung Tunai(BLT), Bantuan Sosial(Bansos), BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, dan lain-lainnya. Yah, bantuan-bantuan itu patut kita syukuri sekalipun masih belum bisa memerdekakan kita dari kekurangan.

 

Jika kita menghadapi orang-orang yang dalam pergumulan ekonomi yang seperti itu, janganlah kita memberikan nasehat yang melarang atau menyalahkan mereka mengambil langkah berutang. Karena berutang memang jalannya. Lebih baik bantulah mereka melunasi utang-utangnya itu dan memberikan solusi ke depannya. Sedangkan jika kita sendiri yang dalam pergumulan demikian itu dan kita mendapatkan kasih karunia mengenal ELOHIM YAHWEH dan ANAKNYA; YESHUA ha MASHIA, maka sesungguhnya kita menemukan sebuah kunci solusi. Maka letakkan pengharapan anda itu pada kemerdekaan dari jeratan utang. Manfaatkan pengenalan pada SANG MAHAKUASA itu untuk memerdekaan anda dari lingkaran setan perutangan seperti yang dilakukan oleh para istri nabi di zaman nabi Elisa;

 

2Raja-raja 4:1     Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya."

4:2          Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." – silahkan lanjut ke ayat selanjutnya.

 

Tulisan di atas adalah tentang kemiskinan ekonomi. Sekarang saya mau bicara tentang kemiskinan sosial seperti yang dialami oleh para pemungut cukai, penjudi, pemabuk, pelacur dan orang-orang lainnya yang tidak mendapatkan tempat di masyarakat.

 

Kemiskinan sosial pemungut cukai di zaman YESHUA ha MASHIA;

 

Pemungut cukai adalah orang-orang yang direkrut oleh raja-raja Romawi untuk memungut pajak, khususnya di wilayah jajahan di Tanah Palestina. Mungkin di antara para pemungut cukai itu dilakukan pembagian wilayah dan dikenakan target setoran ke pemerintah Romawi dan mungkin mereka tidak digaji, sehingga penghasilan mereka didapatkan dari kelebihannya. Karena mereka diijinkan oleh pemerintah Romawi untuk mencari kelebihan dari target setoran, maka para pemungut cukai itu sudah pasti akan terjebak untuk menekan, mengancam, membohongi dan memaksa masyarakat Yahudi untuk membayar sejumlah uang kepadanya.

 

Sementara itu di kalangan orang-orang kayanya, kebanyakan mereka mempunyai pengawal-pengawal atau bagian keamanan yang sangar-sangar yang membuat para pemungut cukai tidak berani macam-macam terhadapnya. Sekalipun para pemungut cukai itu dibeking oleh tentara Romawi. Maka dengan kata lain para pemungut cukai itu beraninya hanya ke rakyat kecil yang lemah. Yang tidak berani melawan, namun yang di dalam hatinya sangat membenci sekali kelakuan para pemungut cukai itu.

 

Itu sebabnya mereka dikucilkan dan dianggap pengkhianat bangsa. Sebab bangsa Yahudi sejak dipimpin nabi Musa dan diajarkan Taurat, mereka dididik dalam jiwa nasionalisme yang kuat;

 

Imamat 25:35     "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu.

25:36     Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.

25:37     Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba.

25:38     Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan, supaya Aku menjadi Allahmu.

 

Secara ekonomi bisa dipastikan mereka adalah orang-orang kaya karena hasil memeras itu tadi. Tapi secara sosial mereka benar-benar sangat miskin. Kalau berjalan di kampung mungkin harus menundukkan kepalanya karena minder dan tak ada yang menegur-menyapanya. Tapi apakah semua pemungut cukai harus disalahkan, jika bapaknya pemabuk anaknya juga pemabuk, jika bapaknya preman anaknya juga preman, jika bapaknya tukang parkir anaknya melanjutkannya? Atau jika ada orang muda lulusan sarjana yang terpaksa kerjanya menjadi tukang parkir, menjadi tukang sapu jalan, menjadi tukang sampah, menjadi Satpam, bahkan pemungut cukai jika bidang kerja yang mau menerima mereka adalah bidang-bidang itu? Contoh nyata sekarang ini adalah banyak yang kesasar ke operator judi online bahkan menjadi mucikari online.

 

Mau dibilang apa jika makanan semua orang sama, kebutuhan sama, beban hidup menanggung keluarga, menanggung orangtua dan adik-adik yang juga sama, sementara lapangan kerja yang dianggap halal sangat terbatas? Dan mau dibilang apa jika bercermin dari kehidupan para pejabat yang sudah kaya namun masih korupsi? Yang sekalipun penampilannya dibalut dengan jas dan dasi, bahkan dengan Alkitab di tanganpun ternyata akhirnya diborgol polisi oleh berbagai kasus?

 

Masihkah para penjudi, para pemabuk, para pelacur dan para pemungut cukai dikambing hitamkan terus sebagai orang berdosa? Mungkin kita dengan mata di darat melihatnya begitu. Tapi mata TUHAN yang melihat dari atas helicopter, jelas takkan sepicik itu. Mata TUHAN yang melihat hati, bukan melihat penampilan tak mungkin menyamaratakan orang seperti kita. Dan mata TUHAN yang tajam itu mau memanggil Matius untuk dijadikan muridNYA.

 

Lukas 3:12           Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"

3:13        Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."

 

Lukas 15:1           Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

15:2        Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

 

Mat. 11:19           Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya."

 

Luk. 7:39              Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."

 

Yah, kalau mencari ikan laut ya jangan di danau tapi carilah di laut. Kalau mencari orang suci ya jangan di dunia ini. Karena itu betapa kejinya jika ada orang yang menghakimi sesamanya. Karena itu TUHAN menekankan;

 

Mat. 7:1               "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

 

Demikian halnya dengan pemungut cukai yang bernama Zakheus. Seorang yang kaya harta namun yang miskin sosial, yang gersang jiwanya. Ketika melihat iring-iringan orang banyak yang mengiringi perjalanan YESHUA ha MASHIA saja hatinya sudah senang, sudah terhibur seperti kita melihat karnaval. Karena itu Zakheus sampai memanjat pohon untuk bisa melihat wajah Sang Nabi yang diagung-agungkan oleh orang banyak itu. Nabi Besar itu lewat di jalanan rumahnya. Senang sekali seperti ketika rumah kita dilewati iring-iringan presiden.

 

Tapi kesenangan hati Zakheus tidak berhenti di situ saja. Sang Nabi Besar itu berhenti dan mataNYA menatap tajam ke dirinya;

 

Lukas 19:5           Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."

 

Nabi Besar itu memandang dirinya? Nabi Besar itu mengetahui namanya? Dari siapa? Siapa yang mengenalkan namanya pada Nabi Besar itu? Memangnya dia orang suci? Memangnya pemungut cukai itu orang hebat? Mengapa Nabi Besar itu tidak menghardiknya? Mengapa mau-maunya menyapa dirinya yang dianggap hina? Betapa beraninya Nabi Besar itu mendekati seorang pemungut cukai yang sangat dibenci masyarakat? Malah Nabi Besar itu hendak menginap di rumahnya?

 

Ini baru INJIL! Ini baru KABAR BAIK! Sebab kabar buruk pasti berkata: masuklah ke sorga hai kamu orang-orang yang baik, dan masuklah ke neraka hai kamu orang-orang yang jahat. Tapi kalau pintu sorga dibukakan untuk orang-orang berdosa? Ini namanya INJIL!

 

Maka emosional Zakheus tak lagi bisa dibendung. Jiwanya hancur tercabik-cabik oleh sebab dia yang jahat bukannya dibalas dengan hukuman tapi dibalas dengan anugerah. Satu kata celaanpun tak keluar dari mulut Nabi Besar itu. Justru kalimatNYA sangat bersahabat. Maka pada akhirnya, pada titik-titik tertentu, orang akan bisa melihat betapa tiada gunanya Mamon, tiada gunanya segala posisi atau kedudukan. Sebab yang lebih besar dari Mamon sesungguhnya adalah KASIH!

 

Kasih dan cinta membuat orangpun berperibahasa; biar gunung tinggi akan kudaki dan lautan luas akan kuseberangi. Yang lain lagi berperibahasa akan naik ke langit untuk memetik bintang-bintang di langit. Dan ELOHIM YAHWEH-pun rela memberikan ANAK TUNGGALNYA;

 

Yohanes 3:16      Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

 

Maka bukanlah dongeng jika Zakheus-pun berkata;

 

Lukas 19:8           Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."

 

Sebab YESHUA ha MASHIA-pun sudah memberikan perumpamaan;

 

Mat. 13:46           Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

 

Itu sebabnya YESHUA ha MASHIA menuntut kita supaya mengasihi ELOHIM YAHWEH dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita, Tujuannya tidak lain adalah supaya dengan kasih itu kita bisa memenuhi segala tuntutanNYA;

 

Yoh. 14:15           "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

 ===============================

 

Shalom, aturan umum yang kita ketahui dan kita sepakati adalah bahwa setiap anggota suatu organisasi atau anakbuah itu wajib mengamankan pesan atau amanah atau keputusan pimpinannya. Artinya, anakbuah atau anggota tidak memiliki hak untuk membantah atau memprotes atau berpendapat yang berbeda dengan pimpinannya. Sehingga suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, salah atau benar segala amanah atau keputusan pimpinan harus dianggap benar, harus dilaksanakan, harus ditaati dan harus dibela sampai titik darah penghabisan. Dan kalau tidak mau mengamankan atau tidak sependapat, ya harus keluar, harus mengundurkan diri dari organisasi itu, supaya tidak menjadi duri dalam daging. Di perusahaan atau organisasi diskusi atau musyawarah hanya berlaku di forum rapat. Di luar itu tidak berlaku suara jalanan. Kecuali di wilayah pemerintahan yang bersistem republik, di mana kedaulatan ada di tangan rakyat, maka setiap warga negara diberikan hak untuk bersuara, untuk berpendapat yang berbeda dengan pemimpinnya.


Bagaimana dengan di agama Mesianik? Di sini Kerajaan ELOHIM YAHWEH adalah milik ELOHIM YAHWEH, bukan milik umat, bukan milik kita, bukan milik rakyat sebagaimana pemerintahan republik. Maka aturan yang berlaku adalah satu komando saja. Sehingga kewajiban kita sebagai umat adalah mengamankan seluruh Firman ELOHIM YAHWEH, yaitu: menganggap benar, melaksanakan, dan menjaga kemurniannya. Jika tidak mengamankan FirmanNYA, maka kita menjadi barisan yang mengganggu, menjadi duri dalam daging.

Bayangkan seandainya seragam umat ELOHIM YAHWEH itu merah lalu ada orang yang mengenakan seragam putih, tidakkah itu merusakkan citra dan menciptakan kebingungan ke orang luar? Sama saja dengan menyesatkan orang. Misalnya orang Mesianik yang hidupnya berfoya-foya, maka apa pendapat orang luar tentang ajaran Mesianik? Karena itulah kita diamanahkan supaya menjadi garam dan terang dunia. Supaya kita menjadi percontohan, bukan menjadi perusak.

Karena itulah maka YESHUA ha MASHIA menganggap anda sebagai pembuat kejahatan;

Matius 
7:22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
7:23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Jadi, sekalipun anda bukan penipu, bukan copet, bukan maling motor, bukan pembunuh, bukan koruptor, tapi YESHUA ha MASHIA menyamakannya.

Jadi, masih ringankah kesalahan anda? Masih bukan apa-apa? Masih belum layak untuk anda pikirkan serius untuk mengambil langkah-langkah pertobatan? Sudah sebegitu jauhnya masih merasa dekat? Sudah sebegitu buruknya masih merasa baik-baik saja? Ooh, sebaiknya lupakanlah soal kota Yerusalem Baru.

Saya melihat anda ngeri, tapi anda tenang-tenang saja. Mudah-mudahan saya yang salah lihat.

YBU.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

320 WNA JUDOL DI HAYAM WURUK

  Diberitakan viral kalau polisi menangkap 320 orang warga negara asing operator judi online di Jl. Hayam Wuruk Jakarta.   Hebatkah it...