Kamis, 06 November 2025

SEMUA ADA JAWABNYA

 

Orang pintar tak bisa memahami bahasa tubuh. Tidak bisa membaca respon orang kecuali itu diucapkan. – Usahakan untuk mengerti, memahami hati atau pikiran orang melalui pergerakan ekspresi wajah maupun anggota tubuhnya. Sebab itulah cara yang paling halus untuk disampaikan dalam menjaga perasaan orang daripada harus diucapkannya dengan nada kesal. Ini tidak ada dalam pelajaran di sekolah karena oleh SANG PENCIPTA sudah ditanamkan ke dalam jiwa kita supaya kita dimungkinkan untuk berkomunikasi selain dari kata-kata. Tapi jika tidak pernah dilatih ya akan mati.

 

Tidak bisa membaca suasana. Sekalipun berada di rumah duka tidak merasa bersalah ketika tertawa ngakak. Kalau ditegur pasti akan bilang: “Mana aturannya?” - benar juga, ‘kan?! – Ini juga tidak ada dalam pelajaran di sekolah. Tapi ketika dalam sebuah barisan yang berseragam ada yang tidak berseragam kayaknya itu mengganggu pemandangan bagi mata orang yang memperhatikan keserasian atau harmonisasi. Atau jika dalam sebuah paduan suara ada suara yang fals pastilah membuat lagu itu kurang enak didengar. Artinya, alangkah indahnya jika kita bisa beradaptasi terhadap lingkungan. – Roma 12:15            Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

 

Tidak mengerti maksud pengumuman. Ketika di buskota diingatkan supaya memprioritaskan orang tua, difabel atau perempuan hamil dia tetap bisa duduk santai. “Kan tidak ditujukan ke aku?” - benar juga, ‘kan?! – Pengumuman memang ditujukan untuk umum dengan tujuan menyamaratakan orang dengan harapan semuanya sama-sama bisa memahami. Maka jika anda menuntut untuk dikhususkan untuk anda, tidakkah itu memposisikan anda sebagai orang yang berbeda atau asing dari kebanyakan orang? Kalau Alkitab mengistilahkannya sebagai orang bebal.

 

Tidak mengerti rumah orang. Biarpun mobilnya keren tidak merasa bersalah untuk membuang sampah di depan rumah orang. “Kan tidak ada tulisan larangannya?” – benar juga, ‘kan?! – Dengan mobil keren membuat orang berpikir tentang orang yang berkecukupan. Setidaknya tidak mempunyai masalah dengan biaya pendidikannya. Tapi jika perilaku yang dipertunjukkan tidak sesuai dengan kemestian orang terdidik, bukankah seperti melumuri kotoran ke muka sendiri? Bukankah sedang mengumumkan kegagalan pendidikan anda?

 

Tidak merasa bersalah jika seharian di warung sekalipun hanya untuk ngopi saja. “Kan, pemilik warungnya nggak keberatan?!” - benar juga, ‘kan?! – Pemilik warung jelas kehilangan rejeki atas sebuah bangkunya yang sedang anda pakai. Tapi sebagai orang yang masih mengerti budaya ketimuran, biasanya menunggu kesadaran dari tamunya yang masih pingsan. Dan biasanya jika pingsannya terlalu lama orang akan akan menyiramkan air supaya tersadar.

 

Tidak merasa bersalah ketika melintasi lampu merah. “Yang penting ‘kan selamat!” - benar juga, ‘kan?! – Sekalipun selamat tapi nyata itu pelanggaran hukum. Dan pelanggar hukum itu termasuk orang hukuman, sekalipun hukumannya tilang. Lebih parah lagi kalau sampai ada orang yang berpikir bahwa anda orang yang tidak mengerti hukum. Mudah-mudahan anda termasuk anak remaja yang suka kebut-kebutan, bukan orang terpandang.

 

Tidak merasa bersalah untuk memarkir mobilnya sembarangan. “Kalau tidak dilarang itu boleh” - benar juga, ‘kan?! – Asal ketika di depan rumah anda ada orang yang memarkir mobilnya yang menghalangi aktifitas anda, anda tidak marah. Mungkin nggak masalah. Masalah adalah ketika tidak mau dicubit tapi mencubit orang.

 

Hanya mencuri sandal, orang diproses hukum. “Kan ada hukumnya?!” - - benar juga, ‘kan?! – Asal jangan ketika anda bersalah anda berkata: “Maaf, saya khilaf” atau “Maaf, saya manusia biasa”. Sebab kayaknya di dunia ini memang nggak ada manusia yang luarbiasa. Semuanya sama.

 

Tidak merasa bersalah ketika memotong antrean. “Kan cuma sebentar?!” — benar juga, ’kan?! – Mungkin kalau berada di kalangan keluarga sendiri bisa lebih fleksibel. Tapi di masyarakat umum harus memahami pasal-pasal ketertiban umum. Ketertiban yang berlaku untuk umum tidak memandang bulu. Kecuali jika keperluannya untuk ke UGD.

 

Tidak merasa bersalah ketika mengomentari fisik orang lain. “Kan cuma bercanda?!” — benar juga, ’kan?! – Yang perlu diketahui adalah di dalam kelas yang 50 siswa itu ada 50 tingkatan kepandaiannya. Artinya reaksi setiap orang atas suatu aksi itu berbeda-beda. Sehingga apa yang anda maksud belum tentu satu frekwensi dengan orang lain. Itu namanya salah paham. Dan salah paham tidak mesti kesalahan ada di pihak yang memahaminya tapi bisa juga dari yang membuat paham.

 

Tidak merasa bersalah menjelekkan orang di media sosial. “Kan nggak disebut namanya?!” — benar juga, ’kan?! – Soal nama itu bisa digantikan dengan ciri-ciri. Karena itu ketika kita menyebutkan ciri-ciri orang sama artinya dengan menyebutkan namanya.

 

Tidak merasa bersalah menipu pelanggan dengan diskon palsu. “Kan untung dikit aja?!” — benar juga, ’kan?! – Sekalipun sedikit ya uang hasil tipuan. Itu akan menjadi setitik nila yang merusakkan susu sebelanga.

 

Tidak merasa bersalah saat memotong pembicaraan orang lain. “Kan aku cuma menambahkan?!” — benar juga, ’kan?! – Suatu maksud itu membutuhkan metode, membutuhkan cara. Maksud yang baik harus dibarengi dengan cara-cara yang baik pula. Jika tidak, maksud baik bisa rusak dikarenakan caranya. Maksud anda bisa gagal oleh sebab cara yang salah.

 

Tidak merasa bersalah menjilat atasan dan menginjak bawahan. “Kan demi karier?!” — benar juga, ’kan?! – Karier seperti apa yang dihasilkan dari menjilat dan menginjak orang? Mengapa tidak memilih cara-cara yang profesional dan terhormat daripada mengotori karier sendiri?! Haruskah kehormatan digadaikan demi karier?! Haruskah orang membacanya sebagai penjahat yang menjadi direktur atau direktur yang korup?!

 

Tidak merasa bersalah menyuap petugas. “Kan semua juga begitu?!” — benar juga, ’kan?! – Tapi semuanya juga bersalah, melanggar hukum dan terancam sanksi hukum. Asal anda mau digolongkan seperti mereka nggak masalah. Tidak ada orang yang bisa melarang atau menghalangi orang yang keinginannya melanggar hukum. Dan tidak ada orang yang bisa menghalangi polisi untuk memenjarakan anda.

 

Tidak merasa bersalah memanipulasi laporan. “Kan demi target perusahaan?!” — benar juga, ’kan?! – Suatu kesalahan tak pernah menjadi kebenaran hanya oleh sebab dianggap benar. Dan ketika suatu kesalahan dianggap kebenaran, maka itu adalah kesalahan logika. Logika yang sakit karena tidak bekerja sebagaimana mestinya.

 

Tidak merasa bersalah menunda pembayaran upah. “Kan mereka masih kerja juga?!” — benar juga, ’kan?! – Itu adalah masalah majikan dengan buruhnya. Masalah orang kaya dengan orang miskin. Kalau bagi orang kaya penundaan pembayaran utang mungkin nggak masalah karena ada perbedaan antara uang perusahaan dengan uang dapur. Tapi bagi buruh yang miskin penundaan gaji sama halnya dengan penundaan makan mereka. Tentu kejam jika membiarkan orang yang mengabdi ke kita, kita telantarkan.

 

Tidak merasa bersalah menipu rakyat dengan janji politik. “Kan bagian dari strategi?! — benar juga, ’kan?! – Anda akan kehilangan kepercayaan. Anda akan kehilangan legitimasi. Pada puncaknya anda juga bisa dimakzulkan.

 

Tidak merasa bersalah menggaji orang kecil. “Kan aku sudah menolong memberinya pekerjaan?” - benar juga, ’kan?! – Jika anda punya kalkulator dan punya HP untuk mencari informasi tentang biaya hidup orang di suatu kota, anda pasti tahu apakah penggajian anda sudah benar atau tidak. Jangan sampai dinilai orang anda tidak pandai berhitung atau belum membaca Pancasila.

 

Tidak merasa bersalah ketika mem-PHK karyawannya. “Kan yang penting aku memberikan pesangon sesuai aturan?” - benar juga, ’kan?! – Kalau anda bisa berpikir panjang pasti anda bisa melihat kesulitan mereka mendapatkan pekerjaan yang baru dan sampai berapa lama uang pesangon itu bisa untuk bertahan.

 

Tidak merasa bersalah menipu rakyat. “Kan semua pemimpin juga begitu?!” — benar juga, ’kan?! – Tapi anda termasuk pemimpin yang tidak mempunyai nilai-nilai. Orang akan membedakan anda dari tokoh-tokoh yang terhormat dan pahlawan. Seumpama jeruk ada jeruk yang bagus dan ada jeruk yang busuk yang tidak akan dimakan orang. Hukumnya memang tidak ada, sebab hukumnya ada di hati.

 

Tidak merasa bersalah menutup mulut orang jujur. “Kan demi stabilitas?!” — benar juga, ’kan?! – Anda bisa begitu adalah karena anda memegang kekuasaan. Tapi di atas anda ada kekuasaan yang lebih tinggi yang akan memperlakukan anda sebagaimana anda memperlakukan mereka.

 

Tidak merasa bersalah memanipulasi kebenaran. “Kan demi kepentingan bangsa?!” — benar juga, ’kan?! – Memanipulasikan kebenaran terhadap rakyat atau masyarakat sama seperti meracuni mereka. Membuat mereka tidak mengerti kebenaran. Jika mereka adalah suatu bangsa, maka anda sedang menenggelamkan bangsa anda sendiri. Biasanya itu disebut pengkhianat bangsa.

 

Tidak merasa bersalah menyingkirkan orang yang mengingatkan. “Kan dia terlalu idealis?!” — benar juga, ’kan?! – Kalau anda menyingkirkan tanda bahaya sama dengan anda membuat diri anda tidak lagi tahu bahaya. Maka tahunya tahu-tahu anda terjungkir ke dalam lobang. Artinya bunuh diri – konyol!

 

Tidak merasa bersalah memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi. “Kan tujuannya mulia?!” — benar juga, ’kan?! – Kalau agama anda anggap yoyo, ya silahkan anda permainkan. Mungkin karena anda belum tahu dan belum mengenal siapa pemilik agama itu. Bagaimana seandainya pemiliknya jendral?! Tidakkah anda akan kencing di celana?!

 

Tidak merasa bersalah membiarkan orang lapar. “Kan bukan keluargaku?!” — benar juga, ’kan?! – Maka jika anda kecelakaan dan tergeletak di tengah jalan, jangan pula berteriak meminta tolong karena orang-orang itu bukan keluarga anda.

 

Tidak merasa bersalah melihat orang mati di jalan. “Kan bukan urusanku?!” — benar juga, ’kan?! – Nggak apa selama anda bisa mempertahankan kaki anda untuk berdiri. Tapi kata orang dunia ini berputar sehingga yang di bawah bisa ke atas sedang yang di atas bisa ke bawah. Dan ketakaburan membuat semakin dekat dengan kegugurannya.

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

320 WNA JUDOL DI HAYAM WURUK

  Diberitakan viral kalau polisi menangkap 320 orang warga negara asing operator judi online di Jl. Hayam Wuruk Jakarta.   Hebatkah it...