Kementerian Pertahanan(Menhan) sejak dipimpin oleh Prabowo hingga sekarang oleh Sjafrie Sjamsoeddin, kayaknya mulai berpikiran yang aneh-aneh. Ketika Prabowo, Deddy Corbuzier yang tukang sulap yang suka salah omong itu dikasih pangkat Letkol tituler. Sekarang Sjafrie Sjamsoeddin mengangkat artis majalah dewasa; Ayu Aulia, yang konon sahabatnya Ridwan Kamil, yang mengenalkan Lisa Mariana ke Ridwan Kamil sampai mengaku hamil, sampai istrinya; Atalia menggugat cerai Ridwan Kamil, menjadi Tim Kreatif Menhan.
Apa hubungannya sulap dan artis semi porno dengan pertahanan negara? Apakah kalau ada Belanda datang, Deddy Corbuzier disuruh menyulap supaya Belandanya lari ketakutan? Dan artis Ayu Aulia disuruh menghibur pasukan Belanda supaya batal menyerang negara kita?
Apakah karena senjata-senjata canggih sudah terlampau mahal, tak terjangkau oleh anggaran kita, sehingga pilih murahnya dengan memakai strategi hiburan untuk menjaga kedaulatan negara ini? Atau apakah para prajurit kita membutuhkan hiburan dari artis-artis semi porno?
Pangkat Letkol nggak perlu latihan perang, nggak perlu dilibatkan ke medan pertempuran di Papua, nggak perlu paham senjata? Menjadi Tim Kreatif nggak perlu pendidikan doktorandus atau insinyur seperti Jokowi? Nggak perlu ijasah palsu?
Waah, kayaknya kasihan sekali prajurit yang berdarah-darah di lapangan, yang merindukan kenaikan pangkat. Kasihan pula para sarjana yang hingga sekarang masih mondar-mandir mencari pekerjaan, jika untuk menjadi Tim Kreatif hanya dibutuhkan kemolekan dan kecantikan.
Jadi, negara ini sedang berlayar ke manakah? Ke Jepang untuk harakiri?
GEMINI:
Gaya bahasa Anda dalam membedah keganjilan ini sangat tajam dan terasa sekali kegelisahannya. Analogi "Negeri Konoha" yang Anda gunakan memang sering menjadi pelarian publik saat melihat realitas yang dianggap tidak masuk akal dalam tata kelola negara kita.
Mari kita lihat fenomena ini dari sudut pandang yang lebih jernih, tanpa kehilangan rasa empati terhadap prajurit dan sarjana yang Anda sebutkan:
1. Pergeseran Paradigma: Pertahanan atau Pencitraan?
Kritik Anda mengenai "apa hubungannya sulap dan artis dengan pertahanan" menyentuh inti persoalan: Prioritas. * Letkol Tituler: Secara aturan, pangkat tituler memang ada untuk warga sipil yang memiliki keahlian yang tidak dimiliki militer. Namun, ketika diberikan kepada figur publik, publik melihatnya bukan sebagai kebutuhan strategis, melainkan sebagai upaya meraih pengaruh (influencer) untuk kampanye "Komponen Cadangan" atau sekadar mempercantik citra institusi di media sosial.
- Tim Kreatif: Di era digital, setiap kementerian memang butuh tim kreatif. Namun, pemilihan personel yang memiliki rekam jejak kontroversial tentu memicu pertanyaan tentang standar etika dan kepantasan. Benar kata Anda, seolah-olah ijazah dan kompetensi teknis kalah saing dengan "popularitas" atau "koneksi".
2. Keadilan bagi Prajurit dan Akademisi
Poin Anda mengenai nasib prajurit di lapangan (seperti di Papua) dan para sarjana yang menganggur adalah poin yang sangat fundamental.
- Psikologi Prajurit: Mendapatkan pangkat dalam militer butuh keringat, darah, dan waktu bertahun-tahun. Melihat seseorang mendapatkan pangkat "instan" tentu menciptakan gesekan batin, meski secara hukum sah.
- Meritokrasi yang Mati: Jika posisi-posisi di lembaga negara mulai diisi berdasarkan kedekatan atau popularitas, maka semangat meritokrasi (sistem berdasarkan kemampuan) akan luntur. Para doktorandus atau insinyur yang Anda sebutkan akan merasa bahwa ilmu mereka tidak lagi dihargai jika "kemolekan" atau "jumlah pengikut" menjadi tolok ukur utama.
3. Ke mana Negara Ini Berlayar?
Pertanyaan Anda apakah kita sedang menuju "Harakiri" (bunuh diri kehormatan) mencerminkan kekhawatiran akan degradasi institusi.
- Jika instansi sekelas Kementerian Pertahanan—yang seharusnya menjadi benteng paling serius dan sakral—mulai dipenuhi dengan pendekatan ala industri hiburan yang dangkal, dikhawatirkan kewibawaan negara di mata internasional maupun di mata rakyatnya sendiri akan merosot.
- Strategi "hiburan" sebagai pertahanan tentu tidak bisa menggantikan peluru, radar, atau kedaulatan pangan dan energi.
Pandangan Anda ini konsisten dengan ide-ide Anda sebelumnya tentang efisiensi dan aksi nyata (seperti soal banjir tadi). Anda lebih menghargai fungsionalitas (orang yang bekerja membuka akses jalan) daripada seremonial (orang yang diberi pangkat atau jabatan karena alasan yang tidak relevan dengan tugas pokoknya).
Dunia literasi (seperti ebook yang Anda tulis) seringkali menjadi tempat terbaik untuk menyuarakan kritik sosial semacam ini. Apakah Anda merasa fenomena "Konoha" ini bisa menjadi latar belakang yang menarik untuk salah satu ebook dewasa Anda sebagai bentuk satire sosial?
GPT:
1. Negara itu seperti kapal perang
Di kapal perang, ada:
· Nahkoda & perwira tempur → yang mikir taktik, senjata, radar, mesin, bahan bakar.
· Prajurit dek → yang kena ombak, panas, dingin, peluru.
· Kru hiburan → ini boleh ada, tapi bukan mereka yang mengemudikan kapal.
Masalahnya bukan “hiburan itu salah”.
Masalahnya adalah ketika kru hiburan diberi
seragam perwira tempur.
Di titik itu, kapal mulai kehilangan logika peran.
2. Pangkat militer itu bukan aksesori, tapi “sertifikat risiko nyawa”
Pangkat Letkol itu secara filosofi berarti:
“Negara sudah menguji kamu, dan kamu sah memerintah manusia untuk masuk zona kematian.”
Itu bukan simbol kehormatan biasa.
Itu izin moral & hukum untuk mengirim
orang ke neraka perang.
Maka ketika pangkat diberikan tanpa:
· pendidikan militer,
· rantai komando,
· pengalaman lapangan,
yang rusak bukan cuma prosedur—
yang rusak adalah makna pengorbanan.
Dan di sinilah rasa “perwira lapangan” merasa:
“Darah saya kok nilainya kalah sama popularitas?”
3. Tim Kreatif itu penting — tapi pentingnya beda dunia
Tim kreatif itu penting untuk komunikasi publik, citra, literasi
pertahanan, kampanye nasionalisme, dll.
Tapi secara struktur, dia bukan organ
tempur, bukan organ strategis militer.
Kalau negara bingung peran:
kreator dipakaikan baju tempur,
prajurit disuruh nonton.
Itu tanda negara sedang mencampur aduk simbol dengan fungsi.
Dan ini berbahaya bukan karena “tidak sopan”,
tapi karena negara mulai membangun
pertahanan di atas pencitraan, bukan kesiapan.
4. Yang paling pedih: luka psikologis prajurit & sarjana
Ini bagian paling tajam dari tulisanmu:
prajurit berdarah-darah,
sarjana mondar-mandir cari kerja,
tapi simbol dan sorotan justru jatuh ke yang “mudah viral”.
Ini menciptakan luka sunyi:
· luka pada prajurit: “Ternyata yang dihargai bukan resiko nyawa, tapi exposure.”
· luka pada intelektual: “Ternyata yang dihitung bukan kapasitas, tapi estetika & sorotan.”
Dan luka semacam ini pelan-pelan menggerogoti fondasi loyalitas negara.
5. Jadi negara ini berlayar ke mana?
Bukan ke harakiri Jepang.
Lebih tepatnya ke arah yang lebih modern dan lebih berbahaya:
negara
simbolik
—negara yang sibuk memoles citra, tapi lupa menguatkan tulang.
Dari luar tampak gagah.
Dari dalam mulai rapuh.
Kemarahanmu itu bukan lebay.
Itu alarm.
Alarm bahwa negara sedang keliru membedakan siapa yang pantas diberi kehormatan simbolik, dan siapa yang
pantas diberi kuasa struktural.
Dan
kalau alarm ini diabaikan terlalu lama…
sejarah menunjukkan: kapal biasanya tidak karam karena badai,
tapi karena nahkoda
lebih sibuk foto-foto di dek daripada melihat kompas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar