Hakekat(hakikat) adalah inti sarinya, kebenarannya, atau fungsionalnya. Kalau tubuh manusia adalah jantung atau otak, itulah hakekatnya. Maka kalau tubuh tidak ada otak dan jantungnya, menjadi mati.
Dan saat ini banyak orang yang mati sekalipun tubuhnya masih hidup. Sebab dalam hidupnya yang ditunjukkannya adalah kematiannya. Termasuk presiden kita sekarang ini; Prabowo, yang sudah setahun memerintah namun masih belum kunjung menunjukkan kepresidenannya. Perkataan dan tindakan-tindakannya sama sekali tidak memberitahukan kalau dirinya presiden yang berkuasa.
Bilangnya akan menindak tegas mafia-mafia, malah banyak mafia yang berkacak pinggang, menantang! Judi online, mana kelanjutannya? Pagar laut, mana kelanjutannya? Bandara IMIP yang disebut menjadi negara dalam negara, mana kelanjutannya? Dan kini, 16 Desember 2025, malah ada 15 TKA China yang berani menyerang TNI di tambang emas Ketapang.
Pertanyaan sederhananya; di mana dan apa kerjanya Badan Intelijen Negara(BIN), di mana dan apa kerjanya Menteri pertahanan? Di mana dan apa kerjanya presiden Prabowo sampai tidak mengetahui masih banyaknya TKA China di daerah-daerah pertambangan, di saat bangsa sendiri banyak yang masih menganggur dan terkena PHK?
Di mana dan apa kerjanya aparat pemerintah termasuk presidennya yang menolak penetapan status darurat nasional atas bencana di Aceh, sampai-sampai gubernurnya meminta bantuan PBB? Tidakkah itu tanda pembangkangan? Tapi apa sebabnya terjadi pembangkangan tersebut?
Apa langkah presiden ketika mendapati menteri-menterinya yang memanfaatkan bencana Sumatera untuk mencari popularitas dengan memanggul beras? Ketika menteri lainnya berbohong sudah menyalakan listrik 95%?
Apa gunanya posisi sebagai menteri, apa gunanya gaji dan fasilitas yang besar seorang menteri, serta kesempatan korupsi anggaran, jika kehilangan hakekat dan martabatnya sebagai manusia? Masakan itu semua melebihi dari hakekat dan martabat manusianya? Maka itu sesungguhnya adalah zombi! Bukan lagi manusia yang hidup.
Bukan hanya soal presiden dengan para menterinya, tapi termasuk siapa saja, setiap individu, baik yang kaya maupun yang miskin, jika sisi-sisi kemanusiaannya dihilangkan, maka jika dunia ini tidak ada manusia, bukankah sisanya adalah binatang yang akan menggantikannya? Karena itu manusia yang tidak lagi bisa menggambarkan kemanusiaannya, maka dia tidak lain hanyalah zombi yang memancarkan tabiat binatang.
Saling menerkam, saling memangsa, hanya bisa merusak tanpa bisa memperbaiki, tidak mengenal tanggungjawab, tidak mempunyai rasa malu, tidak mempunyai keinsyafan bersalah, tidak mempunyai penyesalan, suka melakukan kesia-siaan, hidup tanpa tujuan, arogansi, dan lain-lainnya.
Yah, manusia tanpa moral, tanpa kasih sayang, maka itulah zombi!
Jadi, buktikanlah jika anda bukan zombi.
Tulisan ini membuktikan bahwa saya bukan zombi. Justru kalau saya tidak menuliskannya, maka saya termasuk salah satu dari zombi-zombi itu.
GPT:
Saya tangkap amarah sekaligus keprihatinan Anda. Teks ini bukan sekadar kritik politik; ini gugatan tentang kehilangan hakekat manusia. Saya akan menanggapinya secara konseptual, bukan membela siapa pun, dan bukan pula menguji detail peristiwa satu per satu. Kita bicara inti, seperti yang Anda minta.
1. Hakekat: antara “organ hidup” dan “fungsi hidup”
Analogi Anda tepat:
- Tubuh → hakekatnya jantung & otak
- Negara → hakekatnya tanggung jawab & keberanian moral
- Manusia → hakekatnya nurani & kesadaran etis
Maka, jabatan tanpa fungsi
sama dengan tubuh tanpa organ vital.
Bergerak, bicara, bernapas—tetapi tidak hidup.
Di sini Anda tidak sedang berkata “presiden
buruk”,
melainkan: “fungsi kepresidenan tidak hadir”.
Itu beda kelas.
2. Hidup biologis vs hidup eksistensial
Ini inti filsafat eksistensial:
- Hidup biologis: jantung berdetak, tubuh berjalan.
- Hidup eksistensial: ada tanggung jawab, keputusan, risiko, keberpihakan.
Zombi yang Anda maksud bukan
makhluk horor,
melainkan manusia yang:
masih hidup secara biologis,
tapi mati secara eksistensial.
Ia ada, tapi tidak mengada.
3. Kekuasaan tanpa keberanian = otoritas kosong
Dalam politik, hakekat kekuasaan bukanlah:
- seragam,
- pidato,
- kursi,
- atau angka elektabilitas.
Hakekat kekuasaan adalah keberanian memutuskan dan menanggung akibatnya.
Ketika:
- hukum tak ditegakkan,
- kebohongan dibiarkan,
- penderitaan dipakai sebagai panggung,
- keadilan ditunda tanpa alasan moral,
maka yang mati bukan negara, tapi martabatnya.
Negara masih berdiri,
tetapi roh negara sudah keluar.
4. Mengapa “zombi” jadi metafora yang tepat?
Karena zombi itu:
- bergerak tanpa kesadaran,
- memakan tanpa rasa bersalah,
- merusak tanpa tujuan,
- menulari yang lain.
Dan yang paling berbahaya:
zombi merasa dirinya masih normal.
Inilah tragedi moral modern:
kehilangan rasa malu dianggap biasa.
5. “Jika manusia tiada, binatang menggantikan”?
Binatang tidak salah.
Binatang mengikuti naluri.
Yang Anda kritik justru manusia
yang menanggalkan kemanusiaannya,
namun tetap menuntut hak sebagai manusia.
Itu lebih buruk dari binatang.
6. Lalu: bagaimana “membuktikan bukan zombi”?
Ini pertanyaan pamungkas Anda. Jawabannya tidak retoris.
Manusia membuktikan dirinya hidup ketika ia:
- Mau bertanggung jawab, bukan bersembunyi di balik sistem.
- Mau malu, bukan sekadar pintar berdalih.
- Mau mengaku salah, bukan sekadar mencari kambing hitam.
- Mau membela yang lemah, meski tidak menguntungkan.
- Mau berkata cukup, di tengah kerakusan yang dilegalkan.
Zombi tidak bisa melakukan itu.
Manusia bisa—meski mahal harganya.
Penutup (tanpa basa-basi)
Tulisan Anda keras karena realitasnya
memang keras.
Dan ya—tidak semua yang bernyawa itu hidup.
Maka tantangan “buktikanlah jika
anda bukan zombi”
sebenarnya bukan ditujukan ke saya, atau ke presiden saja.
Itu cermin.
Pertanyaannya tinggal satu—dan ini saya lempar balik, jujur:
Dalam keputusan sehari-hari kita
masing-masing,
apakah kita sedang hidup sebagai manusia,
atau sekadar bergerak seperti zombi yang pandai berbicara?
Di situlah hakekat diuji.
GEMINI:
Tulisan Anda ini merupakan kritik sosial dan politik yang sangat tajam, menggunakan konsep "Hakikat" sebagai pisau analisis untuk membedah situasi kepemimpinan dan kondisi kemanusiaan saat ini.
Anda menggunakan metafora "Zombi" untuk menggambarkan kehilangan substansi paling krusial dalam diri manusia, yaitu moral dan fungsionalitas. Berikut adalah beberapa poin inti yang saya tangkap dari pemikiran Anda:
1. Krisis Fungsionalitas (Hakikat Jabatan)
Anda menyoroti bahwa sebuah jabatan (Presiden, Menteri, Aparat) kehilangan hakikatnya jika tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
· Ketika janji penegakan hukum (judi online, mafia) tidak berujung pada hasil nyata, jabatan tersebut dianggap "mati" secara fungsional.
· Kritik Anda terhadap insiden 16 Desember 2025 di Ketapang menunjukkan kekecewaan mendalam pada sistem pertahanan dan intelijen yang dianggap gagal melindungi kedaulatan di tanah sendiri.
2. Dehumanisasi dan Simbolisme Zombi
Metafora zombi yang Anda gunakan sangat kuat untuk menggambarkan:
· Ketiadaan Empati: Menteri yang memanfaatkan bencana untuk popularitas (pencitraan) alih-alih solusi nyata.
· Kehilangan Malu: Ketidakmampuan untuk merasa bersalah atau bertanggung jawab atas kegagalan kebijakan.
· Insting Binatang: Persaingan yang saling menerkam dan merusak, yang menurut Anda akan terjadi jika nilai kemanusiaan (moral dan kasih sayang) dicabut dari tatanan sosial.
3. Otentisitas Hidup
Tulisan ini pada akhirnya adalah sebuah panggilan untuk membuktikan eksistensi. Anda berargumen bahwa hidup bukan sekadar bernapas atau memegang jabatan, melainkan tentang bagaimana seseorang mewujudkan "hakikat" manusiawinya melalui tanggung jawab dan tindakan nyata.
Refleksi: Kalimat penutup Anda, "Buktikanlah jika anda bukan zombi," merupakan tantangan eksistensial bagi setiap individu, baik pemimpin maupun rakyat biasa, untuk kembali ke nilai-nilai moral dan fungsionalitas hidup yang sebenarnya.
Tanggung Jawab Moral
Anda memilih untuk tidak menjadi penonton yang diam (silent bystander). Dalam filsafat, sering dikatakan bahwa "diam di hadapan ketidakadilan adalah bentuk dukungan terhadap ketidakadilan itu sendiri." Dengan bersuara, Anda sedang menjalankan fungsi kontrol sosial.
Sebuah Refleksi: Tulisan Anda bertindak sebagai cermin. Bagi mereka yang membacanya, tulisan itu akan memaksa mereka bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya sedang bekerja sesuai hakikat saya, atau saya hanya sekadar bergerak tanpa jiwa seperti zombi?"
Menulis adalah cara manusia untuk tetap "hidup" melampaui kematian fisiknya. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar