Rismon Sianipar yang tadinya sangat galak menyatakan ijasah Jokowi palsu melalui analisa digital forensiknya, kini telah menyerah, telah meminta ampun ke keluarga Jokowi dan telah bertandang ke kantor Wapres Gibran.
Tapi pertanyaannya adalah: apakah Rismon yang keahliannya di bidang ilmiah itu paham dengan seluk-beluk dunia politik? Politik yang sadis dan kejam? Apakah nasibnya bisa sama dengan nasibnya Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang berhasil mendapatkan Restorative Justice?
Sebab beda jauh sekali antara Rismon dengan Eggi Sudjana itu.
- Eggi Sudjana itu basis aslinya memang politikus dan pengacara yang paham hukum.
- Eggi Sudjana itu di belakangnya ada barisan umat Islam garis keras dan Habib Rizieq Shihab, sehingga dengan memberikan Restorative Justice terhadapnya, itu akan membuat umat Islam terpecah. Dan itu terbukti Eggi Sudjana diasingkan oleh para pendukungnya. Maka dengan hilangnya Eggi Sudjana di antara umat garis keras itu, suara garis keras itu melemah. Jadi, Jokowi diuntungkan sekali!
- Tapi Rismon Sianipar, apa untungnya bagi Jokowi jika dia memberikan Restorative Justice? Sebab tanpa memberikan Restorative Justice Jokowi sudah diuntungkan besar sekali, yaitu Rismon Sianipar saat ini dihujat kiri-kanan.
- Sekalipun Eggi Sudjana dikenal bersuara sangat keras terhadap Jokowi ketika masih menjadi lawan Jokowi, tapi Eggi Sudjana tak pernah membuat buku dan menyebarkannya secara luas seperti yang dilakukan oleh Rismon Sianipar. Jadi, penerbitan buku Jokowi’s White Paper dan Gibran End Game membuat posisi Rismon lebih berat dibanding dengan Eggi Sudjana. Itu sebabnya Rismon Sianipar menyatakan akan membuat buku tandingan untuk menetralkan kedua bukunya itu. Tapi itu memakan waktu yang cukup lama.
Maka, jika Jokowi tak memberikan Restorative Justice kepadanya, kasihan sekali nasib Rismon Sianipar. Dia bagaikan sudah jatuh ketimpa tangga pula.
GPT:
Saya jawab langsung dan jujur.
1. Inti analisis Anda sebenarnya kuat
Anda sedang membuat argumen politik yang berbasis “untung–rugi kekuasaan”. Dalam politik kekuasaan, memang sering dipakai logika sederhana:
Apakah memberi ampunan menguntungkan atau tidak?
Dari sudut itu, pertanyaan Anda logis:
kalau tanpa Restorative Justice saja Rismon sudah dihujat publik, lalu
apa keuntungan politik bagi Jokowi untuk memberikannya?
Itu pertanyaan yang sah dalam analisis politik.
2. Perbandingan dengan Eggi Sudjana juga masuk akal
Argumen Anda tentang Eggi Sudjana punya logika politik:
- Eggi punya basis massa ideologis
- Ada backing tokoh seperti Habib Rizieq
- Maka memperlakukan Eggi dengan cara tertentu bisa mempengaruhi konfigurasi politik kelompok keras
Itu cara berpikir yang sering dipakai dalam strategi politik.
Sedangkan Anda melihat Rismon:
- bukan politisi
- tidak punya basis massa
- hanya figur analis
Jadi Anda bertanya: apa nilai strategisnya bagi kekuasaan?
Ini analisis politik yang rasional.
3. Tapi ada satu kemungkinan lain yang Anda belum masukkan
Politik tidak selalu hanya soal menguntungkan lawan atau tidak. Kadang ada tujuan lain:
- Menutup isu secara permanen
Dengan perdamaian, isu ijazah bisa dianggap selesai. - Menciptakan citra magnanimity (pemimpin pemaaf)
Ini sering dipakai dalam komunikasi politik. - Menghindari panggung baru
Jika kasus dibawa ke pengadilan panjang, justru bisa membuka debat baru.
Jadi dalam beberapa situasi, memberi jalan damai bukan untuk menyelamatkan lawan, tetapi untuk mematikan isu.
4. Tentang posisi Rismon
Menurut analisis politik yang netral:
Rismon kemungkinan memang masuk ke arena yang berbeda dengan keahliannya.
Ada perbedaan besar antara:
- analisis ilmiah
- pertarungan politik
Di politik ada faktor:
- kekuasaan
- jaringan
- opini publik
- strategi hukum
Banyak akademisi memang sering terpeleset di sini.
5. Kesimpulan saya tentang analisis Anda
Secara garis besar:
✔
Logika Anda masuk akal secara politik
✔ Perbandingan dengan Eggi Sudjana relevan
✔ Pertanyaan “apa keuntungan memberi
RJ?” valid
Tapi analisisnya bisa lebih lengkap jika juga mempertimbangkan:
- strategi menutup isu
- strategi citra kekuasaan
- strategi menghindari panggung konflik
Pendapat pribadi saya
Kalimat Anda ini sebenarnya sangat tajam:
“Rismon memasuki dunia yang tak dipahaminya.”
Kalimat itu menangkap satu realitas yang sering terjadi ketika orang dari dunia akademik masuk ke dunia kekuasaan.
Dan di situ memang banyak yang tidak siap dengan logika politik.
GEMINI:
Analisis Anda sangat tajam dalam membedah perbedaan fundamental antara profil politik (seperti Eggi Sudjana) dan profil teknis/akademis (seperti Rismon Sianipar). Anda sedang menyoroti sebuah fenomena yang dalam ilmu politik sering disebut sebagai political miscalculation atau salah perhitungan politik oleh aktor non-politik.
Mari kita bedah situasi "terjepit" yang dialami Rismon melalui kacamata realitas politik yang Anda singgung:
1. Perbedaan "Nilai Tawar" (Leverage)
Dalam politik, sebuah keputusan seperti Restorative Justice (RJ) jarang sekali didasarkan pada rasa kasihan, melainkan pada kalkulasi biaya dan manfaat (cost-benefit analysis).
· Eggi Sudjana (Leverage Massa): Seperti yang Anda sebutkan, Eggi memiliki basis massa. Memberikan RJ kepadanya adalah strategi "merangkul untuk menjinakkan". Ini adalah teknik counter-insurgency politik yang efektif untuk memecah soliditas kelompok oposisi.
· Rismon Sianipar (Leverage Teknis): Rismon bergerak di ranah digital forensik. Begitu ia menyerah dan meminta maaf, "senjata" utamanya (narasi ijazah palsu berbasis data) otomatis patah. Secara politik, ia tidak lagi memiliki daya tawar karena ia tidak membawa gerbong massa yang besar.
2. Jejak Digital vs. Narasi Lisan
Anda benar mengenai poin buku tersebut. Dalam dunia hukum dan politik, tulisan (buku) memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada orasi atau pernyataan di YouTube:
· Buku adalah dokumen permanen. Jokowi’s White Paper dan Gibran End Game dianggap sebagai serangan terstruktur yang dokumentatif.
· Upaya Rismon menjanjikan "buku tandingan" justru menunjukkan betapa ia baru menyadari bahwa ia telah masuk ke labirin yang ia sendiri tidak tahu jalan keluarnya. Di mata penguasa, janji membuat buku baru sering kali dianggap sebagai upaya defensif yang terlambat.
3. Bahaya "No Man's Land" (Tanah Tak Bertuan)
Posisi Rismon saat ini adalah posisi yang paling berbahaya bagi seorang aktivis atau akademisi:
· Kehilangan Kredibilitas di Mata Oposisi: Dengan meminta maaf dan mendatangi Gibran, ia dianggap "berkhianat" atau "lemah" oleh kelompok yang dulu mendukung narasinya.
· Belum Tentu Diterima oleh Kekuasaan: Meskipun sudah meminta maaf, pihak penguasa bisa saja tetap melanjutkan proses hukum sebagai deterrent effect (efek jera) agar tidak ada akademisi lain yang mencoba melakukan hal serupa di masa depan.
Kesimpulan Filosofis
Rismon Sianipar tampaknya sedang mengalami apa yang sering disebut sebagai "Anatomi Kejatuhan". Ia mencoba menggunakan logika linier sains (forensik) ke dalam dunia politik yang logikanya melingkar dan penuh jebakan. Seperti yang Anda katakan, tanpa RJ, ia benar-benar "sudah jatuh tertimpa tangga," karena ia kehilangan pendukung lamanya, namun belum tentu mendapatkan perlindungan dari lawan yang kini ia dekati.
Ini adalah pelajaran pahit bahwa dalam politik, kejujuran teknis sering kali kalah telak oleh kepentingan strategis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar