Rabu, 05 November 2025

DAFTAR YANG TAK DIPAHAMI ORANG PINTAR

 

Orang pintar tak bisa memahami bahasa tubuh. Tidak bisa membaca respon orang kecuali itu diucapkan.

 

Tidak bisa membaca suasana. Sekalipun berada di rumah duka tidak merasa bersalah ketika tertawa ngakak. Kalau ditegur pasti akan bilang: “Mana aturannya?” - benar juga, ‘kan?!

 

Tidak mengerti maksud pengumuman. Ketika di buskota diingatkan supaya memprioritaskan orang tua, difabel atau perempuan hamil dia tetap bisa duduk santai. “Kan tidak ditujukan ke aku?” - benar juga, ‘kan?!

 

Tidak mengerti rumah orang. Biarpun mobilnya keren tidak merasa bersalah untuk membuang sampah di depan rumah orang. “Kan tidak ada tulisan larangannya?” – benar juga, ‘kan?!

 

Tidak merasa bersalah jika seharian di warung sekalipun hanya untuk ngopi saja. “Kan, pemilik warungnya nggak keberatan?!” - benar juga, ‘kan?!

 

Tidak merasa bersalah ketika melintasi lampu merah. “Yang penting ‘kan selamat!” - benar juga, ‘kan?!

 

Tidak merasa bersalah untuk memarkir mobilnya sembarangan. “Kalau tidak dilarang itu boleh” - benar juga, ‘kan?!

 

Hanya mencuri sandal, orang diproses hukum. “Kan ada hukumnya?!” - - benar juga, ‘kan?!

 

Tidak merasa bersalah ketika memotong antrean. “Kan cuma sebentar?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah ketika mengomentari fisik orang lain. “Kan cuma bercanda?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menjelekkan orang di media sosial. “Kan nggak disebut namanya?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menipu pelanggan dengan diskon palsu. “Kan untung dikit aja?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah saat memotong pembicaraan orang lain. “Kan aku cuma menambahkan?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menjilat atasan dan menginjak bawahan. “Kan demi karier?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menyuap petugas. “Kan semua juga begitu?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah memanipulasi laporan. “Kan demi target perusahaan?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menunda pembayaran upah. “Kan mereka masih kerja juga?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menipu rakyat dengan janji politik. “Kan bagian dari strategi?! — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menggaji orang kecil. “Kan aku sudah menolong memberinya pekerjaan?” - benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah ketika mem-PHK karyawannya. “Kan yang penting aku memberikan pesangon sesuai aturan?” - benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menipu rakyat. “Kan semua pemimpin juga begitu?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menutup mulut orang jujur. “Kan demi stabilitas?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah memanipulasi kebenaran. “Kan demi kepentingan bangsa?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menyingkirkan orang yang mengingatkan. “Kan dia terlalu idealis?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi. “Kan tujuannya mulia?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah membiarkan orang lapar. “Kan bukan keluargaku?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah melihat orang mati di jalan. “Kan bukan urusanku?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menyalahkan korban. “Kan dia sendiri yang cari masalah?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menindas yang lemah. “Kan hukum berpihak pada yang kuat?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah hidup dari uang haram. “Kan Tuhan Maha Pengampun?!” — benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menghidupkan rokok di dekat anak kecil.

“Kan cuma sebentar?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah membuat tetangga tak bisa tidur karena karaoke sampai larut.

“Kan rumah-rumahku sendiri?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah memasukkan anaknya ke sekolah favorit dengan jalur orang dalam.

“Kan semua orang juga cari koneksi?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menggampangkan janji.

“Nanti aku kabari ya…” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah mengambil sedikit uang kas kantor.

“Kan cuma pinjam dulu?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menunda berbuat baik.

“Nanti kalau aku sudah mapan…” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah membiarkan anak diasuh HP.

“Kan biar dia tidak rewel?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menghina guru, ustadz, pendeta, orang tua di media sosial.

“Kan kita punya kebebasan berpendapat?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah tidak menjaga perkataan.

“Yang penting aku jujur apa adanya?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah meminjam uang tapi lupa mengembalikan.

“Kan dia nggak nagih?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah melupakan kawan saat sukses.

“Kan sekarang lingkaranku beda?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah membiarkan orang tua tua bekerja sendirian.

“Kan mereka masih kuat?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah meninggalkan ibadah demi urusan bisnis.

“Kan Tuhan itu di hati?!” — Benar juga, ’kan?!

 

Tidak merasa bersalah menimbun kebutuhan pokok saat bencana alam, menyebabkan harga melambung.  "Kan ini mekanisme pasar? Siapa cepat dia dapat untung." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah merancang produk yang cepat rusak (planned obsolescence) agar pelanggan harus beli lagi.          "Kan ini demi keberlanjutan bisnis dan inovasi? Kalau tidak begitu, perusahaan mati." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah menyebarkan berita bohong (hoaks) yang memicu perpecahan, demi keuntungan politik/view.    "Kan cuma framing? Lagipula, mereka yang percaya yang salah, bukan aku yang menyebarkannya." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah mengambil proyek yang merusak lingkungan (misalnya, membabat hutan lindung).        "Kan izinnya sudah diurus? Lagi pula, ini membuka lapangan kerja dan meningkatkan PDB daerah." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah memanfaatkan kelemahan hukum untuk menghindari pajak dalam jumlah besar.            "Kan ini tax planning yang legal? Kewajiban saya hanya membayar sesuai yang tertulis di undang-undang, tidak lebih." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah merekayasa uji klinis atau data penelitian demi mendapatkan paten produk yang menguntungkan.     "Kan kerugiannya tidak terbukti fatal? Lagipula, semua industri juga bermain di abu-abu area ini." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah menargetkan iklan yang mengeksploitasi kerentanan psikologis orang (misalnya, kecanduan judi).          "Kan mereka sendiri yang memutuskan untuk bermain? Kami hanya menyediakan platform yang efektif." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah mendiamkan atau menutupi kasus pelecehan di lingkungan kerja/institusi yang dipimpinnya. "Kan demi menjaga nama baik institusi? Jika masalah ini dibuka, reputasi semua orang akan hancur." — Benar juga, 'kan?!

 

Tidak merasa bersalah menjatuhkan hukuman yang tidak adil kepada orang miskin karena kesalahan kecil.   "Kan hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu? Walaupun dia miskin, dia tetap melanggar." — Benar juga, 'kan?!

Ketika memotong pengendara lain; “Kan nggak kena?!” - Benar juga, 'kan?!

 

Ketika yang ditabrak terluka; “Kan hanya luka sedikit?” - Benar juga, 'kan?!

 

Ketika  yang ditabrak meninggal dunia; “Kan sudah saya kasih uang duka?” - Benar juga, 'kan?!

 

Ketika merasa bersalah; “Kan saya tidak sengaja?” - Benar juga, 'kan?!

 

 

 ======================================

 

Menyimpulkan daftar di atas, kalimat mana yang anda pilih?

 

-       “Memangnya masalahnya di mana?”

-       “Waah, mengerikan sekali, ya?!”

- "Akh, anda saja yang mencari-cari kesalahan orang. Merasa benar sendiri!" 

 

 

“Dunia rusak bukan karena orang jahat tapi karena orang pintar yang tak punya hati”.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

320 WNA JUDOL DI HAYAM WURUK

  Diberitakan viral kalau polisi menangkap 320 orang warga negara asing operator judi online di Jl. Hayam Wuruk Jakarta.   Hebatkah it...