Rabu, 05 November 2025

KEJUJURAN MENJADI KEPINTARAN

 

Setiap bangsa pasti mempunyai filosofinya sendiri-sendiri, terutama filosofi tentang kehidupan, yaitu apa yang menjadi kunci kehidupan kita. Apa kuncinya untuk sukses?

 

Nah, orang China di zaman dulu ketika pendidikan masih belum dipandang perlu meletakkan kunci kehidupannya pada kejujuran. Kalau mau hidup dan sukses jadilah orang jujur. Karena itu anak-anak China sejak kecil sudah dikenalkan dengan dunia dagang dan ditanamkan kejujuran. Sekolah nggak penting! Yang penting jadilah orang yang bisa dipercayai orang.

 

Dan benar di zaman itu, di zaman saya masih muda sistem perdagangan diwarnai dengan sistem kepercayaan. Baru saja kenal sudah bisa langsung bawa barang dagangan. Tanpa KTP, tanpa tahu alamatnya dan baru saja diketahui namanya. Tapi tentu saja fasilitas ini terbatas hanya berlaku di kalangan sesama Chinanya. Asal berwajah China pasti dipercayai.

 

Dan itu ternyata merambah sampai ke dunia perbankan, yang menurut logika kita seharusnya perbankan itu profesional. Ternyata ketika itu sangat tidak profesional. Baik bank swasta maupun bank pemerintahpun sama-sama lebih mendasarkan pada kepercayaan, bukan pada profesionalisme perbankan. Jika di bank pemerintah kental masalah suap-menyuapnya agar bisa mendapatkan kredit tanpa agunan atau dengan agunan yang tidak sesuai, di bank swastanya banyak yang sistem kepercayaan saja.

 

Tapi itu diskriminatif sekali. Untuk orang China mudah, untuk orang pribumi dibuat belat-belit. Lebih-lebih untuk pak haji yang di waktu itu dikenal suka bayar dengan “Insyaallah”. Maka itulah yang membuat bisnis orang-orang China melesat bagaikan peluru kendali, sementara kaum pribuminya terpaksa hanya bisa menjadi buruh atau petani saja.

 

Bandingkan dengan sekarang: ketika pribumi diperlakukan sama nyatanya mereka juga sukses di berbagai bidang. Malah sekarang pak haji dikejar-kejar bank, bukan supaya membayar utang, tapi supaya mengambil kredit ke bank itu. Bank-bank berbau Islami bermunculan.

 

Pekerja di kantoran juga begitu. Orang China lebih muda diterima kerja dan dipercayai posisi-posisi strategis daripada yang non China.

 

Kesemrawutan administrasi perbankan ini baru ketahuan ketika krisis ekonomi di tahun 1998. Ketika hampir semua bank mengalami gagal bayar dan dilakukan audit ketahuan adanya ketimpangan antara kredit yang disalurkan dengan agunan yang diberikan, bahkan banyaknya kantor-kantor fiktif.

 

Tapi sebelum itu, tahun 1992-1993 dunia perbankan sudah dikejutkan oleh mencuatnya kasus Eddy Tansil yang mengemplang kredit sebesar Rp. 1,3 trilyun, yang sekarang setara dengan 7 trilyunan. Kasus itu membuat semua bank mulai membenahi sistem manajemen dan administrasi mereka. Bahwa ternyata orang China juga bisa tidak jujur. Tapi pengetahuan itu terlambat sehingga meninggalkan sisa yang baru dibuka tahun 1998 itu.

 

Eddy Tansil Ada di China, Hartanya Makin Berlipat Ganda | Buka Mata

https://www.youtube.com/watch?v=i2UYqWnJGS4

 

Seiring dengan perjalanan administrasi perbankan itu, kalangan orang-orang China sudah mulai menganggap penting pendidikan. Dan itu mereka lakukan secara radikal sekali, di mana anak-anak mereka seolah dipaksa bersekolah, rajin belajar dan bersekolah yang setinggi langit. Seluruh waktu anak-anak itu dihabiskan di sekolah dan di rumah, untuk sekolah, les dan mengerjakan PR. Tidak ada anak-anak China keliaran di lapangan bola. Karena itu kita menganggap mereka orang-orang yang sangat tertutup atau ekslusif. Sebab anak-anak itu berada dalam pengawasan ketat orangtuanya untuk dicetak menjadi anak-anak yang ranking satu dan juara. Dan itu nyata hasilnya. Mereka memang dikenal sebagai anak-anak yang pintar.

 

Kalau tadinya menjadi pioner perdagangan, kini menjadi pioner intelektual. Kalau tadinya dididik ketat untuk menjadi orang jujur, sekarang dididik ketat untuk menjadi orang pintar. Kalau tadinya bernuansa moral, di mana selain kejujuran juga diajarkan ketat untuk sopan dan menghormati orangtua, sekarang itu semua nggak penting. Yang penting adalah pintar.

 

CATATAN: Saya tidak bermaksud generalisasi, ya?! Orang China yang baik juga sangat banyak. Semua kembali pada personalnya, bukan pada kesukuannya. Tapi soal perjalanan sejarahnya ya harus dibaca jujur.

 

Dan karena jumlahnya minoritas, pintarnya “bermain” – main sogok, main kekuatan uang, maka saat ini sepertinya bukan masalah yang besar. Seperti api dalam sekam yang akan menjadi bom waktu di kemudian hari yang titik-titiknya sebenarnya sudah mengirimkan isyarat. Sebab pintarnya air danau itu tenang tapi menghanyutkan.

 

Dibuktikan tidak bisa. Sebab pintar! Tapi tupai memberikan pelajaran bahwa sepandai-pandainya dia melompat akhirnya bisa jatuh juga. Seperti ketika kita memburu tikus yang masuk ke sebuah lobang, yakinlah bahwa tikus itu pasti ada di lobang itu sekalipun tidak bisa kita tangkap.

 

Bukan kepintaran itu tidak perlu, tapi kepintaran bukanlah pengganti moral, melainkan harus dijadikan pasangan seperti suami-istri. Jangan dijadikan duda atau janda.

 

Sebenarnya saya ingin membuka pintu. Tapi sebaiknya saya buka jendela saja supaya jangan terlalu vulgar. Bahwa mereka ini merupakan pasangan yang serasi dengan mental pejabat-pejabat kita yang korup. Pejabat kita menjual, mereka membelinya. Pejabat kita minta duit, mereka memberikannya.

 

Nah, sekalipun di  barisan belakang atau di belakang layar, bukankah banyak orang yang sudah bisa melihat bagaimana mereka itu bermain di dunia politik, hukum bahkan di ketatanegaraan. Mereka bisa mengatur jalannya pemerintahan, bisa membuat seorang presiden menjadi boneka cantik dari India. Setidaknya bisa kita lihat dari “belum dibongkarnya pagar laut”, belum ada laut yang dipenjarakan, malah ada yang diundang ke istana.

 

Jejak '9 Naga' Yang Berkuasa & Selalu Terselimuti Kabut Tebal

https://www.cnbcindonesia.com/market/20230119114428-17-406738/jejak-9-naga-yang-berkuasa-selalu-terselimuti-kabut-tebal

 

Jangan kaget kalau sewaktu-waktu terjadi tsunami dari Sunda Megathrust. Sebab BMKG sudah berkali-kali mengingatkannya.

 

Sebagai negara yang dimiliki rakyat, ya terserah rakyat maunya apa dan maunya gimana?! Sedangkan bagi yang main-main cobalah menghitung konsekwensi akheratnya. Sebab bukankah itu ada di kalkulator?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

320 WNA JUDOL DI HAYAM WURUK

  Diberitakan viral kalau polisi menangkap 320 orang warga negara asing operator judi online di Jl. Hayam Wuruk Jakarta.   Hebatkah it...