Dalam bahasa Inggris setiap kata kerja itu dibedakan dalam 3 waktu; Past(lampau), Present(sekarang) dan Future(yang akan datang).
Dan memang benar dalam kehidupan kita, kita ini melewati masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Atau kemarin, hari ini dan hari esok. Yang sudah lewat, yang sedang lewat dan yang akan lewat.
Kalau hari ini tanggal 20 Desember, ini adalah hari esok ketika kita di tanggal 19 Desember. Apa yang belum datang waktu kemarin, sekarang inilah dia datang. Dan apa yang datang di hari ini, besok akan menjadi kemarin. Sedangkan tanggal 21 Desember merupakan hari yang kita nantikan sekarang.
Hari esok akan menjadi hari ini, dan hari ini akan menjadi hari kemarin. Apa yang belum terjadi akan terjadi, dan apa yang sedang terjadi akan menjadi pernah terjadi.
Nasi yang ada di depan kita tadinya adalah beras. Jadi, nasi adalah masa depan dari beras. Dan ketika perut kita kenyang itu adalah nasi yang sudah kita makan. Maka, beras adalah masa lampau, nasi masa sekarang, perut kenyang masa depan. Beras akan menjadi nasi, nasi akan membuat perut kita kenyang.
Apa yang terjadi kemarin kita sudah mengetahuinya, karena sudah kita lewati. Tapi tahukah anda bahwa apa yang sedang terjadi di hari ini merupakan kiriman dari hari esok? Hari esok adalah hari yang belum kita ketahui karena masih belum datang. Kita baru tahu isinya setelah hari esok itu menjadi hari ini.
Kalau Gojek yang mengantarkan paket masih di perjalanan tentunya kita masih belum tahu apa isi paket tersebut, bukan?! Masih misteri.
Tapi benarkah hari esok itu tidak bisa kita tebak? Rasanya sebagian hari esok sudah bisa kita tebak. Misalnya; besok kita akan menghadiri undangan perkawinan, besok kita akan bepergian ke luar kota, besok kita akan mengikuti meeting di kantor, besok waktunya membayar listrik, besok pasti akan datang tagihan dari si A, besok saudara kita akan datang, dan lain-lainnya. Dari mana kita mengetahui acara-acara kita di hari esok? Tentu saja dari undangan atau dari rencana-rencana kita.
Kalau hari ini kita menanam jagung, kita pasti tahu 3 bulan kemudian akan kita panen dan setelah kita jual kita akan mendapatkan uang. Kemudian dari uang itu akan kita belikan mobil. Bahkan mobil itu sudah kita tentukan, merknya, tahunnya, warnanya, dan lain-lainnya. Dengan demikian sebenarnya kita sudah mengisi acara di tanggal-tanggal yang akan datang.
Hal-hal yang akan terjadi, yang sudah kita acarakan, sudah terbayang dalam pikiran kita. Kita tinggal menunggu ujud nyatanya saja. Maka ketika pada waktunya mobil itu benar-benar ada di rumah kita, bukankah kita sudah mengetahuinya dari awal kita merencanakannya?
Memang sering kali alam menyisipkan hal-hal baru, hal-hal yang tak terduga, entah baik maupun buruk. Misalnya, tiba-tiba kita memenangkan undian berhadiah yang tak pernah kita bayangkan, atau tiba-tiba kita sakit atau kecelakaan. Itu memang hal-hal baru yang disisipkan ke dalam kehidupan kita, supaya menjadi PR kita dalam menyusun acara di hari esok. Misalnya, kita akan mengadakan syukuran atas hadiah undian tersebut, atau kita merencanakan ke dokter jika kita sakit.
Tapi secara garis besarnya, kejadian-kejadian di hari esok sudah bisa kita prediksikan. Sehingga jika tiba-tiba kita ditangkap polisi karena kita pernah mencuri, itu bukanlah kejutan. Sebab kita memang telah membuka “sebab” untuk menjadi “akibat”.
Hari ini kita corat-coret canvas untuk menjadi lukisan di esok hari. Hari ini kita membuat sebab untuk akibat di esok hari. Hari ini kita menanam untuk memanen di esok hari.
Maka apakah yang hendak kita buat untuk hari esok? Menyiapkan tawa atau menyiapkan airmata?
Mungkin hidup kita itu seperti sebuah film yang sedang kita putar; sudah kita lihat, sedang kita lihat, dan akan kita lihat. Tapi itu sudah film yang jadi.
Melakukan kejahatan – dihukum. Mengendarai motor ugal-ugalan – kecelakaan. Memakan makanan yang tidak sehat – sakit. Berutang – ditagih. Merugikan orang lain – dimarahi.
Lebih-lebih bagi orang yang menerima gaji bulanan. Mereka pasti sudah mengagendakan tanggal-tanggal, kapan harus belanja beras, kapan bayar listrik, kapan bayar sekolah anak, dan lain-lainnya. Artinya mereka sudah mempunyai rutinitas dalam mengisi hari-hari mereka dari jam ke jamnya. Jam sekian mengantar anak sekolah, jam sekian menjemputnya, jam sekian belanja ke pasar, jam sekian memasak, dan lain-lainnya. Begitu pula dengan orang yang kerja di kantor. Sudah ada rutinitasnya sendiri.
Nah, bukankah secara garis besarnya nggak ada hal-hal barunya dalam menapaki hari ke harinya?!
Namun demikian kehidupan yang dinamis, kehidupan yang bergerak akan selalu menghadirkan cerita-cerita baru yang berkesinambungan. Misalnya, dulu tidak ada HP sekarang punya HP, maka timbullah rangkaian baru, seperti: isi pulsa, dan lain-lainnya. Dan itu menimbulkan beban pikiran yang baru pula, misalnya; dampak negatifnya terhadap anak-anak, beban ekonomi yang perlu dipecahkan juga, dan lain-lainnya.
Dengan kata lain, yang membuat cerita dalam kehidupan kita sesungguhnya adalah kita sendiri. Yang membuat jalan buat jalan kehidupan kita adalah kita sendiri. Yang membuat kita pusing dengan biaya pulsa adalah keputusan kita sendiri ketika menerima tawaran HP. Yang membuat kita kelabakan membayar utang adalah keputusan kita sendiri, bukan?!
Sebenarnya hitungannya bukanlah tahun, bukanlah bulan, bukanlah hari, bukan pula jam, melainkan detik. Detik yang lalu, detik sekarang dan detik kemudian. Yaitu ketika kita berkata: “Ya” atau “tidak”. Kalau komputer ketika kita mengklik. Itu satu detik saja. Tapi akibatnya bisa bertahun-tahun.
Kalau dalam fisika, molekul dipecah menjadi atom dan atom kalau dipecah menjadi nuklir. Bukan yang besar yang kejam itu, melainkan yang terkecil.
GPT:
Tulisan Anda kuat—dan konsisten dengan benang merah pemikiran Anda selama ini: hari esok bukan ruang kosong, melainkan hasil kerja hari ini. Saya akan menanggapi bukan dengan mengulang, tapi dengan merapikan kerangkanya, menajamkan implikasinya, dan sedikit “mengganggu” di titik yang filosofis.
1. Inti gagasan Anda (diringkas tajam)
Jika saya padatkan, tesis Anda kira-kira begini:
Hari esok tidak benar-benar misterius, karena sebagian besar isinya adalah konsekuensi dari sebab yang kita buat hari ini.
Anda menunjukkan ini lewat:
- Bahasa waktu (past–present–future)
- Analogi beras → nasi → kenyang
- Agenda hidup (undangan, gaji bulanan, rutinitas)
- Hukum sebab–akibat (mencuri → ditangkap, ugal-ugalan → celaka)
Kesimpulannya:
Hidup bukan undian acak, melainkan rangkaian keputusan yang sedang diputar.
Ini solid. Seperti film yang adegannya ditulis sambil berjalan, bukan film kosong—tapi juga bukan sepenuhnya improvisasi.
2. Analogi besar yang sedang Anda bangun (tanpa disadari)
Tulisan Anda sebenarnya menyusun 3 lapis waktu:
🔹 Lapisan 1: Waktu kronologis
Kemarin → Hari ini → Besok
Ini waktu kalender. Semua orang sepakat.
🔹 Lapisan 2: Waktu kausal
Sebab → Proses → Akibat
Di sinilah Anda bermain. Hari ini = mesin sebab.
🔹 Lapisan 3: Waktu mental
Rencana → Bayangan → Penantian
Hari esok “sudah hadir” di pikiran, sebelum hadir di realitas.
👉 Jadi hari esok itu belum nyata secara fisik, tapi sudah nyata secara mental.
Ini poin penting, dan sangat filosofis.
3. Klarifikasi penting: apakah ini determinisme mutlak?
Di sini saya ingin mengganggu dengan lembut.
Anda menulis seolah-olah:
“Kalau sebab sudah dibuat, akibat tinggal menunggu.”
Ini hampir deterministik, tapi belum sepenuhnya—dan untungnya Anda sendiri memberi celah:
“Alam menyisipkan hal-hal baru, entah baik maupun buruk.”
Artinya:
- Hidup bukan roulette acak
- Tapi juga bukan rel kereta yang tak bisa dibelokkan
Saya akan rumuskan ulang begini:
Hari esok adalah hasil interaksi antara rencana manusia dan interupsi realitas.
Atau dengan bahasa Anda:
- Kita menulis skrip
- Tapi alam (atau Tuhan, atau realitas) punya hak improvisasi
4. Di mana kebebasan manusia benar-benar berada?
Bukan di:
- Menghapus masa lalu ❌
- Mengontrol seluruh hari esok ❌
Tapi di satu titik sempit namun krusial:
Hari ini.
Hari ini adalah:
- Satu-satunya waktu kita punya kuas
- Satu-satunya waktu kita bisa menambah atau menghapus sebab
Maka pertanyaan Anda di akhir sangat tepat dan tidak retoris:
“Maka apakah yang hendak kita buat untuk hari esok? Menyiapkan tawa atau menyiapkan air mata?”
Karena:
- Air mata jarang “jatuh dari langit”
- Biasanya ia ditabung pelan-pelan, lalu cair di masa depan
5. Kalimat penutup versi filosofis
Kalau tulisan Anda ingin ditutup dengan satu kalimat yang “mengunci”, saya akan tawarkan ini (opsional):
Hari esok bukan ditunggu, tapi
sedang dikerjakan.
Dan hari ini adalah bengkel tempat akibat dirakit.
Atau versi yang lebih tajam:
Tak ada hari esok yang netral—ia selalu membawa tanda tangan keputusan kita sendiri.
GEMINI:
Tulisan Anda sangat mendalam dan reflektif. Anda berhasil menggambarkan konsep Kausalitas (Sebab-Akibat) dengan bahasa yang sangat membumi dan mudah dipahami.
Analogi yang Anda gunakan—mulai dari proses beras menjadi nasi hingga keputusan membeli ponsel—menunjukkan bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya "gelap" atau misterius, melainkan pantulan dari apa yang kita desain hari ini.
Berikut adalah beberapa poin kunci yang saya tangkap dari pemikiran Anda:
1. Masa Depan adalah "Kiriman" Masa Lalu
Anda menekankan bahwa apa yang kita sebut sebagai "hari ini" sebenarnya adalah hasil dari rencana, janji, dan tindakan kita di masa lalu.
- Prediktabilitas: Kita tahu besok ada pertemuan karena kita yang menjadwalkannya.
- Tanggung Jawab: Kita tahu akan ditagih utang karena kita yang memutuskan untuk meminjam. Ini memberikan pesan kuat bahwa kita memiliki kendali (agency) atas sebagian besar narasi hidup kita.
2. "Sebab" yang Kita Ciptakan
Pernyataan Anda mengenai "mencuri" yang berujung pada "ditangkap polisi" bukan sebagai kejutan adalah pengingat moral yang tajam. Seringkali manusia menyebut kemalangan sebagai "nasib buruk", padahal itu adalah "akibat" dari "sebab" yang kita tanam sendiri.
“Hari ini kita membuat sebab untuk akibat di esok hari.” — Kalimat ini adalah inti dari manajemen hidup yang bijak.
3. Ruang untuk Ketidakpastian
Anda dengan bijak menyisipkan poin bahwa alam tetap memiliki "kejutan" (seperti undian atau sakit). Ini menunjukkan keseimbangan antara:
- Determinisme: Hal-hal yang bisa kita atur.
- Probabilitas: Hal-hal di luar kuasa manusia yang memaksa kita untuk adaptif.
4. Dinamika Beban Baru
Menarik sekali bagaimana Anda menyoroti bahwa kemajuan (seperti HP) tidak hanya membawa kemudahan, tapi juga paket "masalah" baru (pulsa, dampak pada anak). Ini adalah pengingat bahwa setiap keputusan "positif" pun memiliki biaya atau konsekuensi yang harus kita kelola di masa depan.
Sebuah Refleksi Singkat: Jika hidup adalah kanvas yang sedang kita corat-coret hari ini, maka setiap goresan kuas kita adalah penentu apakah lukisan itu akan menjadi indah atau berantakan saat dipajang di "hari esok".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar