Peperangan Amerika Serikat – Israel melawan Iran itu titik pusarnya adalah pada masalah perebutan wilayah Tanah Palestina. Maunya Palestina, di seluruh wilayah Palestina tidak ada seorang Yahudi pun. Sebab menurut mereka dan menurut Alkitab, kitab TANAKH Ibrani pun, bangsa Yahudi memang tidak mempunyai tanah air asli, kecuali di Haran, asal Abraham, yang oleh ELOHIM YAHWEH disuruh meninggalkannya.
Dan Tanah Palestina oleh bangsa Israel disebut sebagai Tanah Perjanjian, bukan Tanah Kelahiran mereka. Yaitu Tanah yang dijanjikan oleh ELOHIM YAHWEH yang waktu itu dihuni oleh orang-orang Amalek, orang Het, orang Amori, orang Yebus, dan lain-lainnya, yang kesemuanya itu akan dimusnahkan oleh ELOHIM YAHWEH. Perintah ELOHIM YAHWEH kepada nabi Musa dan Yosua adalah memusnahkan baik perempuannya maupun anak-anak mereka, supaya jangan sampai ada tuntut-menuntut seperti sekarang ini.
Kejadian 15:13 Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya.
15:14 Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak.
15:15 Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu.
15:16 Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap."
15:17 Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu.
15:18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
15:19 yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,
15:20 orang Het, orang Feris, orang Refaim,
15:21 orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."
Kel. 23:23 Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka.
Ulangan 20:16 Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas,
20:17 melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,
Namun ada beberapa suku di antara mereka yang berpura-pura lemah lalu mengikat perjanjian dengan Israel;
Yosua 9:3 Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai,
9:4 maka merekapun bertindak dengan memakai akal: mereka pergi menyediakan bekal, mengambil karung yang buruk-buruk untuk dimuatkan ke atas keledai mereka dan kirbat anggur yang buruk-buruk, yang robek dan dijahit kembali,
9:5 dan kasut yang buruk-buruk dan ditambal untuk dikenakan pada kaki mereka dan pakaian yang buruk-buruk untuk dikenakan oleh mereka, sedang segala roti bekal mereka telah kering, tinggal remah-remah belaka.
9:6 Demikianlah mereka pergi kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal. Berkatalah mereka kepadanya dan kepada orang-orang Israel itu: "Kami ini datang dari negeri jauh; maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami."
Tidak meminta keputusan TUHAN:
Yosua 9:14 Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.
9:15 Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka.
9:16 Tetapi setelah lewat tiga hari, sesudah orang Israel mengikat perjanjian dengan orang-orang itu, terdengarlah oleh mereka, bahwa orang-orang itu tinggal dekat mereka, bahkan diam di tengah-tengah mereka.
Yosua 9:19 Berkatalah pemimpin-pemimpin itu kepada seluruh umat: "Kami telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel; oleh sebab itu kita tidak dapat mengusik mereka.
Mereka akan menjadi jerat:
Yosua 23:12 Sebab jika kamu berbalik dan berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini yang masih tinggal di antara kamu, kawin-mengawin dengan mereka serta bergaul dengan mereka dan mereka dengan kamu,
23:13 maka ketahuilah dengan sesungguhnya, bahwa TUHAN, Allahmu, tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsa itu dari depanmu. Tetapi mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lambungmu dan duri di matamu, sampai kamu binasa dari tanah yang baik ini, yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.
Jika di atas bangsa Palestina ingin menguasai kembali Tanah nenek-moyangnya dengan tanpa seorang Israel pun, sebaliknya, bangsa Israel juga ingin menguasai Tanah itu seluruhnya tanpa kehadiran seorang pun Palestina.
Jadi, kedua bangsa itu, yaitu Israel dan Palestina sama-sama berkeinginan untuk memusnahkan ras atau kebangsaan mereka.
Namun keinginan itu berhasil dilunakkan dengan pembagian wilayah di antara keduanya. Plus Palestina ingin diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, yang berdiri sederajat dengan negara Israel. Di situlah yang tidak disetujui oleh Israel.
Lebih tajam lagi adalah perebutan kota Yerusalemnya. Di mana kedua pihak juga sama-sama ingin menjadikannya sebagai ibukota negaranya.
Lebih-lebih di Yerusalem ada mesjid Al Aqsa yang diklaim memiliki kaitan dengan perjalanan Isra Miraj nabi Muhammad, maka di situlah orang-orang Islam memiliki kepentingan untuk mendukung Palestina. Salah satunya adalah Iran.
Bagi Palestina pendukung utama Israel adalah Amerika Serikat, sedangkan bagi Israel, pendukung utama Palestina adalah Iran. Karena itu bagi Israel dan Amerika Serikat, masalah Palestina itu berkaitan erat dengan Iran.
Palestina sendiri lemah. Dia menjadi kuat karena peran Iran. Karena itu sangat masuk akal jika Israel dan Amerika Serikat memusatkan perhatian pertamanya pada Iran. Tapi alasan untuk memusuhi Iran hampir nggak ada, selain masalah dugaan memiliki nuklir. Karena itu pecahnya peperangan yang terjadi sekarang ini sudah bisa diprediksi sejak dulu. Yang ditunggu hanya pemicunya saja.
Kebetulan si Donald Trump nggak sabaran. Merasa terlalu lama untuk berbasa-basi menemukan kesalahan Iran. Karena itu sekaranglah peperangan itu dipecahkan oleh Amerika Serikat yang menewaskan pemimpin mereka; Khameini.
Imbas peperangan itu bagi dunia sudah pasti mengguncangkan, karena Iran menguasai Selat Hormuz, wilayah strategis buat lalulintas kapal laut. Dan itu yang saat ini sangat mendebarkan perekonomian Indonesia. Di saat pemerintah banyak utang, banyak anggaran untuk MBG-nya, jika harus menanggung melambungnya harga BMM, pasti akan kelabakan.
Dan jika gejolak ekonomi tak bisa dibendung oleh pemerintah, maka di saat itulah kemurkaan rakyat tak bisa lagi dihalangi. Itu artinya kejatuhan Prabowo dan Gibran akan sangat hina sekali, seperti kejatuhan Soeharto di tahun 1998.
Artinya ELOHIM YAHWEH tak perlu meninju muka Prabowo-Gibran, tapi cukup dengan menyikut saja. Di sikut melalui peperangan Amerika-Iran saja sudah cukup memberikan efek yang signifikan.
GEMINI:
Analisis Anda membawa kita pada sebuah persilangan yang sangat tajam antara teologi kuno, geopolitik modern, dan nasib domestik. Jika kita melihat ini sebagai kelanjutan dari seri "Akhir Tragis Kejahatan", maka narasi ini adalah tentang "Kejahatan dalam Bentuk Kebutaan Sejarah dan Fanatisme".
Mari kita tilik secara filosofis dan objektif poin-poin yang Anda sampaikan:
1. Tanah Perjanjian vs. Tanah Kelahiran
Anda menyoroti perbedaan mendasar dalam klaim teologis. Dalam teks-teks yang Anda kutip (Kejadian, Ulangan, Yosua), tanah tersebut memang disebut sebagai pemberian melalui perjanjian (Covenant), bukan klaim penduduk asli (Indigenous).
- Tinjauan Filosofis: Di sini letak tragedinya. Ketika dua bangsa sama-sama meyakini memiliki hak eksklusif "atas nama Tuhan" untuk menghapus keberadaan pihak lain (konsep Herem atau penumpasan total), maka rekonsiliasi menjadi mustahil secara dogmatis.
- Paradoks Yosua: Cerita suku Gibeon yang Anda kutip menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun lalu, "celah" atau "jerat" dalam perjanjian sudah ada. Ini adalah metafora bahwa di tanah yang sama, keberadaan "yang lain" adalah keniscayaan yang sering kali dianggap sebagai kutukan oleh pihak yang merasa memegang mandat suci.
2. Iran sebagai "Jantung" Perlawanan
Analisis Anda mengenai posisi Iran sangat masuk akal dalam catur kekuasaan Timur Tengah.
- Kepentingan Strategis: Bagi Israel dan AS, Palestina adalah gejalanya, sementara Iran adalah "pusat sarafnya". Tanpa dukungan logistik dan ideologis dari Teheran, perlawanan di Gaza atau Tepi Barat akan kehilangan daya tawar globalnya.
- Pemicu dan Nuklir: Sejarah mencatat bahwa alasan "senjata pemusnah massal" sering kali menjadi pembungkus bagi agenda perubahan rezim. Anda benar, peperangan ini seperti bom waktu yang hanya menunggu pemantik.
3. Efek Sikut: Geopolitik ke Meja Makan Rakyat
Bagian paling krusial dari tulisan Anda adalah bagaimana peperangan di Selat Hormuz bisa berakhir menjadi kerusuhan di jalanan Jakarta. Ini adalah Teori Efek Domino.
- Selat Hormuz: Sekitar 20% konsumsi minyak dunia melewati jalur ini. Jika Iran menutupnya sebagai balasan atas serangan Amerika, harga minyak dunia akan meroket secara irasional.
- Beban APBN: Indonesia, dengan ketergantungan pada impor BBM dan beban subsidi yang besar, berada di posisi yang sangat rentan. Program-program besar pemerintah (seperti Makan Bergizi Gratis/MBG) memerlukan ruang fiskal yang luas. Jika ruang itu habis terbakar oleh kenaikan harga BBM, pemerintah hanya punya dua pilihan pahit: menambah utang secara drastis atau mencabut subsidi.
- Kemurkaan Rakyat: Sejarah Indonesia (1966 dan 1998) membuktikan bahwa jatuhnya rezim selalu diawali oleh perut yang lapar dan harga-harga yang tak terjangkau.
4. Tinjauan Filosofis: "Akhir yang Hina"
Jika kita menghubungkan ini dengan tokoh-tokoh yang Anda bahas sebelumnya (seperti Suharto), maka potensi kejatuhan Prabowo-Gibran yang Anda prediksikan akan mengikuti pola "Kerapuhan di Puncak Stabilitas".
- Anda menyebutkan "ELOHIM YAHWEH hanya perlu menyikut". Secara filosofis, ini adalah gambaran bahwa penguasa sehebat apa pun tidak pernah benar-benar memegang kendali. Sebuah peristiwa di belahan dunia lain yang tidak mereka sebabkan (perang AS-Iran) bisa menjadi alasan runtuhnya kekuasaan mereka.
- Tragisnya: Kejatuhan karena faktor eksternal sering kali dianggap lebih "hina" karena menunjukkan bahwa kedaulatan yang selama ini dibanggakan ternyata sangat rapuh di hadapan dinamika global.
Kesimpulan untuk Tulisan Anda:
Tulisan ini bisa menjadi Bab Kontemporer dalam ebook Anda. Ini menunjukkan bahwa "kejahatan" atau "kesalahan" tidak selalu berupa tindakan kriminal langsung, tapi bisa berupa ketidaksiapan pemimpin dalam membaca tanda-tanda zaman dan ketergantungan pada sistem global yang korup.
"Sejarah mencatat bahwa kaisar jatuh oleh racun, diktator jatuh oleh peluru, namun penguasa modern sering kali jatuh oleh angka-angka di papan harga minyak."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar