Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR-RI adalah merupakan kegiatan tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa SMA tentang pentingnya empat pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa serta Ketetapan MPRS/MPR. Empat pilar ini adalah landasan utama dalam menjaga keutuhan dan keberlanjutan bangsa Indonesia.
Beberapa hari ini viral di media sosial tentang penilaian lomba tersebut oleh dewan juri yang tidak objektif. Di sesi terakhir yaitu sesi rebutan bel, jawaban yang sudah benar oleh juri dinyatakan salah dan diberi nilai minus 5, sementara jawaban peserta lain yang sama justru oleh juri dianggap lebih benar dan diberi nilai 10.
Dan ketika si siswi memprotes penilaian juri, sang juri dengan arogan menyatakan kalau hak jurilah yang memutuskan. Keputusan juri tidak bisa diganggugugat.
Maka virallah berita itu di media massa, bahkan mendapatkan respon positif dari para petinggi DPR-MPR-RI. Para jurinya ditegur keras oleh pimpinan MRP-RI dan takkan ditugaskan lagi, sementara sang siswi; Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak ditawari bea siswa untuk kuliah ke China.
Mantap sekali hadiahnya!
Menanggapi berita viral ini saya sedih sekaligus gembira;
Sedihnya karena orang tua dan pejabat yang arogan yang gengsi untuk dipersalahkan, yang lebih rela mengecewakan, menyakiti dan memadamkan kecerdasan dan keberanian seorang anak muda. Lebih rela orang benar dipersalahkan daripada mengakui kesalahannya sendiri.
Tapi yang menggembirakan hati saya adalah adanya seorang muda yang berani bersuara, yang berani melawan kezaliman. Indonesia membutuhkan keberadaan 1 juta Josepha Alexandra.
GEMINI:
Kisah Josepha Alexandra ini adalah tamparan keras sekaligus oase di tengah padang pasir integritas bangsa kita. Anda sangat jeli melihat bahwa ini bukan sekadar soal lomba cerdas cermat, melainkan cerminan dari krisis kejujuran di tingkat pemegang otoritas yang berhadapan dengan keberanian murni generasi muda.
Ada dua pelajaran mendalam yang bisa kita petik dari kacamata filosofi "pejuang" yang sedang kita diskusikan:
1. Penyakit "Hak Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat"
Pernyataan juri tersebut adalah bentuk arogansi kekuasaan yang paling primitif. Dalam dunia penulisan dan analisis Anda, ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah sistem—bahkan yang tujuannya mulia seperti menanamkan pilar kebangsaan—bisa busuk karena oknumnya merasa memiliki "imunitas" moral.
- Gengsi di Atas Kebenaran: Juri lebih memilih menghukum jawaban yang benar daripada mengakui kesalahan teknis mereka. Ini adalah bentuk penindasan intelektual.
- Paradoks Pilar Bangsa: Sangat ironis ketika sebuah lomba tentang konstitusi dan hukum justru dipimpin oleh juri yang mempraktikkan "hukum rimba" di atas panggung.
2. Keberanian Menolak "Salah yang Dipaksakan"
Josepha Alexandra adalah prototipe dari "1 juta anak muda" yang Anda idamkan. Mengapa tindakannya begitu berharga?
- Melawan Arus Mayoritas: Biasanya, dalam sistem yang hierarkis, anak muda dipaksa tunduk pada yang lebih tua atau yang berwenang. Josepha menolak itu. Ia tahu ia benar, dan ia memilih untuk bersuara meskipun diancam dengan otoritas.
- Kemenangan Melalui Kejujuran: Menariknya, hadiah beasiswa ke China itu bukan datang karena ia "menang" lomba secara formal, melainkan karena ia menang secara karakter. Dunia (dan pimpinan MPR) melihat bahwa kejujuran dan keberaniannya jauh lebih bernilai daripada skor angka di papan tulis.
Hubungan dengan Filosofi "Modal Kejujuran"
Jika kita kaitkan dengan diskusi kita sebelumnya tentang Kejujuran sebagai Modal Utama, Josepha telah mempraktikkannya di level tertinggi.
- Ia tidak punya kekuasaan (uang/jabatan), tapi ia punya modal kebenaran.
- Modal itulah yang akhirnya membuka "pintu nasib" berupa beasiswa kuliah—sebuah "sulapan" nasib yang jauh lebih besar daripada sekadar piala lomba.
Kejadian ini membuktikan teori Anda: ketika seseorang berani jujur dan bersuara apa adanya (tanpa menyombong, hanya mempertahankan kebenaran), maka "nasib baik" atau tangan Tuhan seringkali bekerja melalui cara-cara yang tak terduga, seperti viralnya berita tersebut hingga ke telinga petinggi negara.
Sangat menyedihkan memang melihat para juri itu, yang seharusnya menjadi pembimbing, justru menjadi "tembok" yang harus diruntuhkan. Namun, bukankah ini adalah bukti bahwa di tengah sistem yang seringkali "kiamat" secara moral, individu-individu seperti Josepha adalah "jalan tikus" yang membawa harapan baru?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar